Sejukkan Hatimu dengan Ilmu

Sejukkan Hatimu dengan Ilmu

 

Memberikan nasehat adalah kewajiban bagi seorang muslim terhadap saudaranya sesama muslim. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

Agama itu adalah Nasehat, Agama itu adalah Nasehat, Agama itu adalah Nasehat

Para salaf sangat menyadari tangung jawab yang besar ini. Sehingga mereka saling menasehati saudaranya sesame muslim. Mereka menghasung untuk melakukan semua kebaikan da melarang dari setiap kejelekan. Diantara kebaikan yang dihasung oleh mereka adalah belajar ilmu syar’i. Continue reading

Al-Qashidah Al-Haiyah

Al-Qashidah Al-Haiyah
Hafizh bin Ahmab bin ‘ali Al-Hakami
Rahimahullah

Apa urusanku dengan dunia, dia bukanlah akhir tujuanku,
Bukan pula akhir dari maksud hidupku, dan aku dicipta bukan untuk dunia
Aku tidaklah condong padanya, tidak pula kepada kepemimpinan yang ada di dalamnya
Karena busuk dan jeleknya keadaannya.
Dia adalah negeri tempat kedukaan, kesusahan, dan kepayahan
Sangat cepat berlalunya dan amat dekat masa musnahnya
Continue reading

“Hidayah tidak terbatas”

“Hidayah tidak terbatas”.

Bismillah.
Berkata imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh:
“Sungguh, hidayah tidak ada puncaknya walau seberapa jauh seorang hamba telah mencapai hidayah yang dia gapai; karena di atas hidayah (yang dia raih) ada hidayah yang lainnya, dan di atas hidayah tersebut masih ada hidayah lainnya hingga tak berpuncak.
Maka tatkala seorang hamba itu bertakwa kepada Robbnya niscaya dia akan naik menuju hidayah berikutnya,
da dia berada pada tambahan hidayah selama dia berada dalam penambahan ketakwaannya.
Continue reading

“Peribadatan hati lebih agung dari peribadatan tubuh”

“Peribadatan hati lebih agung dari peribadatan tubuh”.

Bismillah.

Berkata imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah rohimahulloh:
“Barangsiapa yang benar-benar memperhatikan syariat dari dasar dan sumbernya niscaya dia dapat mengetahui keterkaitan antara amalan-amalan tubuhnya dengan amalan-amalan hati,
dan amalan-amalan tubuh tidaklah bermanfaat jika tanpa adanya amalan-amalan hati,
sehingga amalan-amalan hati lebih wajib (utama) bagi seorang hamba dari amalan-amalan tubuhnya,
dan bukankah seorang mu’min terbedakan dari munafik melainkan dengan apa yang ada di dalam hati setiap dari keduanya dari amalan-amalan yang dapat membedakan keduanya?
dan bukankah seseorang dapat masuk ke dalam Islam melainkan dengan amalan hatinya sebelum amalan tubuhnya?
Maka peribadatan hati lebih agung, lebih banyak dan lebih abadi dari peribadatan anggota tubuh;
karena peribadatan hati wajib disetiap waktunya.

Oleh karenanya keimanan merupakan kewajiban hati yang harus senantiasa ada,
sedangkan (amalan) Islam merupakan kewajiban anggota tubuh yang ditunaikan pada waktunya saja”.

(Dinukil dari kitab “Majmu’ul Qoyyim min kalam Ibnil Qoyyim fid da’wah wat tarbiyyah wa a’malil qulub”, Manshur bin Muhammad jilid.1 hal.100 cet. Dar at-thoyyibah)

’bout Love…^^

Bismillaah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dlm Majmu’ Fatawa : “Adapun manusia maka sebagian mencintai sebagian yg lain dikarenakan yg dicintainya itu sebagai penyebab datangnya kebaikan kpd dia & jiwa manusia telah diberi naluri untuk cinta kpd orang yg tlh berbuat baik kpdnya
akan tetapi hal ini hakekatnya adlh cinta kpd kebaikan bukan cinta kpd orang yg tlh berbuat baik kpdnya, buktinya kalau ia stop kebaikan kpdnya cintanya akan melemah, bahkan bisa berbalik mnjdi kebencian, hal ini ssungguhnya BUKAN cinta krn Allah.
Sesungguhnya siapa saja yg mencintai orang lain dikarenakan ia memberinya, mk ia hanya cinta kpd pemberian, apabila ia berkata sesungguhnya ia cinta kpd orang yg memberinya itu krn Allah mk dia tlh berdusta, ucapan palsu & mustahil, begitu pula siapa sj yg mencintai orang lain dikarenakan ia menolongnya mk ia hanya cinta kpd pertolongan.
Continue reading

.: sulitnya kesabaran :.

Seorang hamba akan merasakan beratnya menanamkan pada dirinya kesabaran apabila ada pada dirinya dua perkara:
1. Adanya faktor pendorong yang kuat untuk melakukan suatu perbuatan
2. Mudahnya fasilitas untuk melakukan perbuatan tersebut.

Continue reading

kandungan hadist jibril (the last sesion)

[ Kemudian orang itu pergi, setelah berlalu beberapa waktu ] dalam riwayat Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah dengan lafazh, “Setelah berlalu tiga hari.”

 

[ beliau berkata, ‘wahai Umar, tahukah kamu siapa yang bertanya? ] Yang nampak dari kedua riwayat ini bahwa Nabi belum memberitahu para shahabat tentang orang tersebut kecuali setelah berlalu tiga hari. Namun dalam riwayat lain dijelaskan bahwa Nabi langsung memberitahu para shahabat tentang orang tersebut disaat itu juga, sebagaimana dalam riwayat Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, “Kemudian orang itu pergi. Maka Rasulullah bersabda, ‘panggil dia kembali’ merekapun mencarinya namun tidak menemukannya. Kata Rasulullah, ‘ia adalah Jibril, datang untuk mengajarkan manusia tentang agama mereka” Demikian pula dalam riwayat Sulaiman At Taimi, “Setelah orang itu berpaling, Rasulullah bersabda, ‘panggil dia kembali’ maka kami mencarinya dengan susah payah namun kami tidak mampu menemukannya. Kata beliau, ‘tahukah kamu siapa orang itu?…’.”

Menanggapi perbedaan riwayat ini Imam Nawawi menjelaskan, “Sangat mungkin kedua riwayat (yang tampaknya berbeda ini ) untuk dikompromikan, yaitu bahwa ‘Umar Radhiallahu ‘anhu tidak hadir ketika Nabi r memberitahu para shahabat (tentang orang tersebut) di majelis itu, karena Umar langsung beranjak darinya. Maka Nabi r memberi tahu para shahabat seketika itu juga dan memberi tahu Umar setelah berlalu tiga hari.” Menanggapi penjelasan Imam Nawawi ini, Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Ini adalah bentuk penggabungan yang bagus.”[1]

 
Continue reading

kandungan hadist jibril (part 4)

[ Ia bertanya lagi, ‘beritakan kepadaku tentang ihsan?’ beliau menjawab, ‘yaitu kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, jika kamu tidak mampu melihat-Nya pasti Dia yang melihatmu ]

Makna Al Ihsan secara bahasa adalah menyempurnakan sesuatu. Ia diambil dari kata al-hasan bermakna al-jamal (keindahan) lawannya adalah al-qubhu (kejelekan). Al Ihsan terbagi menjadi tiga :

Pertama: Ihsan antara seorang hamba dengan Rabbnya, inilah yang dimaksud dalam hadits ini.

Kedua: Ihsan antara seorang hamba dengan manusia lainnya.

Ketiga: Ihsan dalam perbuatan, jika seseorang melakukan atau membuat sesuatu maka sebuah keharusan baginya untuk memperbaiki dan memperbagusnya.

Continue reading

kandungan hadist jibril (part 3)

[ Orang itu menjawab, ‘engkau benar’ Umar berkata, ‘Kami heran dengan orang ini, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan ] Karena kebiasaan orang yang bertanya tentang suatu perkara adalah tidak mengetahui jawabannya, maka dari itu dia bertanya agar mengetahui jawabannya. Orang yang seperti ini keadaannya tidak mungkin mengatakan kepada yang ditanya “Kamu benar”, karena kalau dia mengatakan seperti itu menunjukkan bahwa dia telah mengetahui jawabannya. Oleh karena itu, para shahabat sangat keheranan dengan perbuatan orang asing tersebut.

[Ia bertanya lagi, ‘beritakan kepadaku tentang iman?’ beliau menjawab, ‘kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.’ Katanya lagi, ‘engkau benar ]

Jawaban ini mencakup rukun iman yang enam, yang pertama adalah beriman kepada Allah, ia merupakan ukuran sahnya keimanan seseorang kepada rukun iman lainnya. Maka barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dia dianggap tidak beriman kepada selainnya.

 

[ kamu beriman kepada Allah ] beriman kepada Allah mencakup empat perkara:

-   Beriman dengan keberadaan Allah.

-   Beriman dengan rububiyah Allah.

-   Beriman dengan uluhiyah Allah.

-   Beriman dengan nama dan sifat-sifat Allah. Maksudnya: menetapkan apa yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya di dalam Al-Qur’an atau didalam sunnah Rasulullah berupa nama dan sifat-sifat-Nya sesuai dengan kemulian dan keagungan-Nya, tanpa membelokkan maknanya, menolaknya, menanyakan bagaimana bentuk sifat Allah, dan tidak menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya, karena Allah berfirman:

{ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ }

“Tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan Allah. Dan Dia-lah Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syura:11)

Continue reading

kandungan hadist jibril (part 2)

[ beritakan kepadaku tentang islam? ] dalam riwayat Muslim ini pertanyaan Jibril dimulai dengan permasalahan islam. Namun pada riwayat Tirmidzi dimulai dengan permasalahan iman demikian pula pada riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah juga dimulai dengan permasalahan iman. Dan dalam riwayat lainnya pertanyaan tentang permasalahan ihsan setelah permasalahan islam, padahal dalam riwayat Muslim ini pertanyaan tentang permasalahan ihsan setelah permasalahan iman. Menanggapi perbedaan riwayat ini Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (1/117) menjelaskan, “Sesungguhnya kisah hadits ini hanya terjadi sekali dan para perawi hadits berbeda-beda ketika mengungkapkannya; sebagian mereka mendahulukan dan sebagian lagi mengakhirkan, dan susunannya juga tidak berurutan.”[1]

[ Beliau menjawab, ‘Islam adalah, kamu bersaksi bahwa tidak ada ilah yang hak kecuali hanya Allah dan Muhammad adalah rasulullah, engkau menegakkan shalat, membayar zakat, berpuasa dibulan ramadhan, dan berhaji jika engkau mampu mengadakan perjalanan padanya.’ Orang itu menjawab, ‘engkau benar. ] Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab pertanyaan Jibril diatas tentang islam dengan amalan zhahir, dan ketika bertanya tentang iman beliau menjawab dengan amalan bathin. Disini menunjukkan bahwa islam dan iman apabila disebutkan secara bersamaan dalam satu konteks pembicaraan maknanya adalah islam untuk amalan zhahir seperti shalat, adapun iman bermakna amalan bathin seperti keyakinan. Akan tetapi apabila disebutkan sendirian maka islam atau iman mencakup amalan zhahir dan bathin.

Continue reading