[ Orang itu menjawab, ‘engkau benar’ Umar berkata, ‘Kami heran dengan orang ini, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan ] Karena kebiasaan orang yang bertanya tentang suatu perkara adalah tidak mengetahui jawabannya, maka dari itu dia bertanya agar mengetahui jawabannya. Orang yang seperti ini keadaannya tidak mungkin mengatakan kepada yang ditanya “Kamu benar”, karena kalau dia mengatakan seperti itu menunjukkan bahwa dia telah mengetahui jawabannya. Oleh karena itu, para shahabat sangat keheranan dengan perbuatan orang asing tersebut.
[Ia bertanya lagi, ‘beritakan kepadaku tentang iman?’ beliau menjawab, ‘kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.’ Katanya lagi, ‘engkau benar ]
Jawaban ini mencakup rukun iman yang enam, yang pertama adalah beriman kepada Allah, ia merupakan ukuran sahnya keimanan seseorang kepada rukun iman lainnya. Maka barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dia dianggap tidak beriman kepada selainnya.
[ kamu beriman kepada Allah ] beriman kepada Allah mencakup empat perkara:
- Beriman dengan keberadaan Allah.
- Beriman dengan rububiyah Allah.
- Beriman dengan uluhiyah Allah.
- Beriman dengan nama dan sifat-sifat Allah. Maksudnya: menetapkan apa yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya di dalam Al-Qur’an atau didalam sunnah Rasulullah berupa nama dan sifat-sifat-Nya sesuai dengan kemulian dan keagungan-Nya, tanpa membelokkan maknanya, menolaknya, menanyakan bagaimana bentuk sifat Allah, dan tidak menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya, karena Allah berfirman:
{ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ }
“Tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan Allah. Dan Dia-lah Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syura:11)
Continue reading →