<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>kehidupan hati</title>
	<atom:link href="http://kehidupanhati.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kehidupanhati.wordpress.com</link>
	<description>serpihan ilmu dalam untaian kata</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Jan 2012 10:02:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='kehidupanhati.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/41fc5e29521d0aa17714418b2db170bf?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>kehidupan hati</title>
		<link>http://kehidupanhati.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kehidupanhati.wordpress.com/osd.xml" title="kehidupan hati" />
	<atom:link rel='hub' href='http://kehidupanhati.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sejukkan Hatimu dengan Ilmu</title>
		<link>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/12/27/sejukkan-hatimu-dengan-ilmu/</link>
		<comments>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/12/27/sejukkan-hatimu-dengan-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Dec 2011 05:49:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kehidupan hati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/12/27/sejukkan-hatimu-dengan-ilmu/</guid>
		<description><![CDATA[Sejukkan Hatimu dengan Ilmu   Memberikan nasehat adalah kewajiban bagi seorang muslim terhadap saudaranya sesama muslim. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : Agama itu adalah Nasehat, Agama itu adalah Nasehat, Agama itu adalah Nasehat Para salaf sangat menyadari tangung jawab yang besar ini. Sehingga mereka saling menasehati saudaranya sesame muslim. Mereka menghasung untuk melakukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kehidupanhati.wordpress.com&amp;blog=20665019&amp;post=141&amp;subd=kehidupanhati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejukkan Hatimu dengan Ilmu</p>
<p> </p>
<p>Memberikan nasehat adalah kewajiban bagi seorang muslim terhadap saudaranya sesama muslim. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :</p>
<p align="center">Agama itu adalah Nasehat, Agama itu adalah Nasehat, Agama itu adalah Nasehat</p>
<p>Para salaf sangat menyadari tangung jawab yang besar ini. Sehingga mereka saling menasehati saudaranya sesame muslim. Mereka menghasung untuk melakukan semua kebaikan da melarang dari setiap kejelekan. Diantara kebaikan yang dihasung oleh mereka adalah belajar ilmu syar’i.<span id="more-141"></span><!--more--></p>
<p>Ketahuliah wahai saudariku, Semoga Allah menjagamu…..</p>
<p>Bahwa ilmu syar’I yang kita dihasung untuk meraihnya haruslah memenuhi beberapa criteria, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Ilmu syar’I yang harus kita raih adalah ilmu syar’I yang benar. Yang diambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para salafush-Shalih. Adapun selain itu maka bukan termasuk ilmu syar’I yang bermanfaat.</li>
<li>Ilmu syar’I yang harus kita raih adalah ilmu yang mengantarkan pemiliknya untuk taat kepada Allah Ta’ala, merasa diawasi oleh-Nya, takut kepada-Nya, dalam keadaan ramai maupun bersendirian. Allah telah memuji para ulama dengan sifat khasyyah yang mereka miliki dan termaktub dalam firman-Nya:</li>
</ol>
<p align="center">Hanya saja yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya adalah para ulama.(QS Fathir : 28)</p>
<ol>
<li>Ilmu syar’I yang harus kita raih adalah ilmu yang mendorong pemiliknya untuk beramal dan mempraktikkan ilmunya. Ingatlah wahai saudariki semoga Allah merahmatimu….. “ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah. Buah dari ilmu yang  sebenar-benarnya adalah amalan.”(Kaifa tatahammas fii thalabil ilmi syar’I hal 18)</li>
</ol>
<p> </p>
<p>Berkata Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah “Hanya saja ilmu itu dipelajari untuk bertaqwa kepada Allah dengannya.”{al-hilyah 6/362}. Maka tujuan dari mempelajari ilmu syar’I adalah untuk beramal dengannya dan bersungguh-sungguh dalam mempraktikannya. (‘awaiquthalab hal 17).</p>
<p> </p>
<p>Sesungguhnya ilmu syar’I sangat pentig bagi kehidupan seseorang. Bahkan seluruh makhluk sangat membutuhkan ilmu. Tidaklah langit, bumi dan apa yang ada di antara keduanya tegak kecuali dengan ilmu, tidaklah di utus para rasul, diturunkan kitab kecuali dengan ilmu. Tidaklah Allah diibadahi dengan sesuatu yang baik daripada ilmu. Tidaklah diketahui tentang kehalalan dan keharoman suatu perkara kecuali dengan ilmu. Tidaklah diketahui keutamaan agama islam daripada agama lainnya kecuali dengan ilmu. [Miftah Daaris-sa’adah 1/314} Dan tidaklah Allah ditaati kecuali dengan ilmu (Miftah Daaris Sa’adah 1/321).</p>
<p> </p>
<p>Ilmu adalah pondasi dalam beramal. Maka setiap amalan yang diamalkan tanpa didasari oleh ilmu maka amalan tersebut tidak bermanfaat bagi pelakunya, bahkan akan memudhorotkannya. Sebagaimana ucapan para salaf… “barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa imumaka ia akan lebih banyak berbuat kerusakan daripada melakukan perbaikan” {miftah daaris-Sa’adah 1/302} “Maka tertolak dan diterimanya suatu amalan oleh Allah sekadar dengan kecocokannya denagn ilmu. Amalan yang mencocoki ilmu itulah amalan yang diterima dan yang tidak mencocoki ilmu maka itulah amalan yang tertolak”( Miftah Daaris Sa’adah 1/303)</p>
<p> </p>
<p>Ketahuilah wahai saudariku semoga Allah merahmatimu…</p>
<p>Bahwa ilmu adalah obat bagi seluruh penyakit hati. Al-Imam Ibnul-Qayyim Rahimahullah berkata “inti dari penyakit yang menimpa hati seorang hamba ada pada 2 hal. Kalau keduanya sudah menguasainya, maka ia akan binasa. Yaitu penyakit syubhat dan syahwat” { Miftah Daaris Sa’adah  1/367} “hati juga bias terjangkiti penyakit lain seperi riya’, kibr, hasad, ujub, mencintai kedudukan. Seluruh penyakit ini bercabangdari penyakit syubhat dan syahwat. Dan seluruh penyakit ini berasal dari kebodohan. Sehingga obat bagi seluruh penyakit tersebut adalah dengan ilmu.”( Miftah Daaris Sa’adah 1/368)</p>
<p> </p>
<p>Penyakit yang menimpa hati lebih berat daripada penyakit yang menimpa badan. Karena penyakit badan akan berakhir dengan kematian. Sedangkan penyakit yang menimpa hati akan membawa penderitanya untuk mendapatkan siksaan yang abadi di hari asamat.sehingga tidak ada penyembuh bagi penyakit hati kecuali dengan ilmu. Oleh karena itu, Allah menamakan Al-Qur’ansebagai penyembuh bagi penyakit hati.</p>
<p> </p>
<p>Duhai saudariku…semoga Allah senantiasa menjagamu,,,</p>
<p> </p>
<p>Demikianlah pentingnya ilmu bagi kehidupan kita. Sehingga tidak sepantasnya seseorang menyia-nyiakan detik-detik waktunya, akan tetapi gunakanlah untuk meraih ilmu dan mengamalkannya. Adakah sesuatu yang lebih agung dan lebih mulia daripada menuntut ilmu syar’i…?</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> bersambung Insya Allah… :  )</p>
<p> </p>
<p align="right">ditulis oleh Azizah Ummu Hudzaifah hafizhohallah Ta’ala</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kehidupanhati.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kehidupanhati.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kehidupanhati.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kehidupanhati.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kehidupanhati.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kehidupanhati.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kehidupanhati.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kehidupanhati.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kehidupanhati.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kehidupanhati.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kehidupanhati.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kehidupanhati.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kehidupanhati.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kehidupanhati.wordpress.com/141/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kehidupanhati.wordpress.com&amp;blog=20665019&amp;post=141&amp;subd=kehidupanhati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/12/27/sejukkan-hatimu-dengan-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b29cd661784c5ed1a3fc85d842b0b2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kehidupanhati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Al-Qashidah Al-Haiyah</title>
		<link>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/09/08/al-qashidah-al-haiyah/</link>
		<comments>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/09/08/al-qashidah-al-haiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Sep 2011 03:30:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kehidupan hati</dc:creator>
				<category><![CDATA[nasehat ulama]]></category>
		<category><![CDATA[1]]></category>
		<category><![CDATA[haiyah]]></category>
		<category><![CDATA[qasidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kehidupanhati.wordpress.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Al-Qashidah Al-Haiyah Hafizh bin Ahmab bin ‘ali Al-Hakami Rahimahullah Apa urusanku dengan dunia, dia bukanlah akhir tujuanku, Bukan pula akhir dari maksud hidupku, dan aku dicipta bukan untuk dunia Aku tidaklah condong padanya, tidak pula kepada kepemimpinan yang ada di dalamnya Karena busuk dan jeleknya keadaannya. Dia adalah negeri tempat kedukaan, kesusahan, dan kepayahan Sangat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kehidupanhati.wordpress.com&amp;blog=20665019&amp;post=122&amp;subd=kehidupanhati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Al-Qashidah Al-Haiyah<br />
Hafizh bin Ahmab bin ‘ali Al-Hakami<br />
Rahimahullah </p>
<p>Apa urusanku dengan dunia, dia bukanlah akhir tujuanku,<br />
Bukan pula akhir dari maksud hidupku, dan aku dicipta bukan untuk dunia<br />
Aku tidaklah condong padanya, tidak pula kepada kepemimpinan yang ada di dalamnya<br />
Karena  busuk dan jeleknya keadaannya.<br />
Dia adalah negeri tempat kedukaan, kesusahan, dan kepayahan<br />
Sangat cepat berlalunya dan amat dekat masa musnahnya<br />
<span id="more-122"></span>Kemudahannya adalah kesulitan, dan kesedihannya adalah kebahagiaan<br />
Keuntungannya aalah kerugian, dan kekurangannya adalah kesempurnaan<br />
Jika dia membuatmu tertawa, sesungguhnya dia membuatmu menangis<br />
Hinga orang dungupun akan mendapatkan apa ang dia inginkan dari dunia<br />
Akan tetapi, langkahnya cepat terputus apa yang telah sampai padanya<br />
Maka aku mohon kepada Rabbku dengan segala daya kekuatan-Nya<br />
Agar Dia pisahkan aku dengan tipu daya dunia<br />
Maka wahai para pencari dunia yang rendah, yang kaian bersungguh-sungguh padanya<br />
Hendaklah engkau mencari selainnya, karena sunggu dia tak pantas untuk dikejar<br />
Beraa banyak oran yang berambisi padanya yang dia bersemangat terhadapnya dan dia rakus di dalamnya,<br />
Sungguh dia tidak beroleh apa-apa…</p>
<p>Dan sungguh telah datang dalam surat al-hadid dan yunus<br />
Dan dalam surat al-kahfi penerangan tentang permisalan dunia<br />
Dan dalam surat ali imran dan surat al-fathir<br />
Dan dalam surat al-Ghafir sungguh telah dating penerangan tentang keadaannya<br />
Dan dalam surat al-Ahqaf terdapat sebesar-besar nasehat<br />
Dan betapa banyak hadist yang mengharuskan kita untuk menjauhinya</p>
<p>Sungguh kelak ada oranhg yang memandang dunia dengan pandangan ilmu<br />
Sehingga tipu daya dunia tidakla membahayakannya<br />
Merekalah keluarga Alloh yang hakiki dan tentara-Nya<br />
Baginya syurga firdaus sebagai warisan dan alangkah bagusnya warisan tersebut<br />
Dan ada pula kelompok yang lain yang dia condong kepadanya (dunia) karena kebodohannya<br />
Ketika mereka tenang-tenang d dalamnya duniapu melancarkan anak panahnya<br />
Merekaah kaum yang lebih mengutamakan dunia<br />
Maka mereka akan mendapatkan iqob di dalamnya<br />
Kehinaanpun akan mereka rasakan, di sisi yang lain dan merasakan bala’nya</p>
<p>Maka katakanlah kepada mereka yang ingin mendapatkan air minum yang segar di dunia<br />
Pelan-pelanlah kalian…..jangan terpacu ambisi !!!<br />
Karena ia sesungguhnya akan berunah jadi racun<br />
Maka silahkan kalian bermain-main dengan dunia dengan sepuas-puasnya<br />
Namun nanti ketika nyawa di tangan terputus, terputus juga duniannya….</p>
<p>Diterjemahkan oleh Ummul Fadhl Asy-Syifa’ hafizhahallah</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kehidupanhati.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kehidupanhati.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kehidupanhati.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kehidupanhati.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kehidupanhati.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kehidupanhati.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kehidupanhati.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kehidupanhati.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kehidupanhati.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kehidupanhati.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kehidupanhati.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kehidupanhati.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kehidupanhati.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kehidupanhati.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kehidupanhati.wordpress.com&amp;blog=20665019&amp;post=122&amp;subd=kehidupanhati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/09/08/al-qashidah-al-haiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b29cd661784c5ed1a3fc85d842b0b2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kehidupanhati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Hidayah tidak terbatas&#8221;</title>
		<link>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/08/13/hidayah-tidak-terbatas/</link>
		<comments>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/08/13/hidayah-tidak-terbatas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 07:38:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kehidupan hati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kehidupanhati.wordpress.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Hidayah tidak terbatas&#8221;. Bismillah. Berkata imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh: &#8220;Sungguh, hidayah tidak ada puncaknya walau seberapa jauh seorang hamba telah mencapai hidayah yang dia gapai; karena di atas hidayah (yang dia raih) ada hidayah yang lainnya, dan di atas hidayah tersebut masih ada hidayah lainnya hingga tak berpuncak. Maka tatkala seorang hamba itu bertakwa kepada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kehidupanhati.wordpress.com&amp;blog=20665019&amp;post=118&amp;subd=kehidupanhati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Hidayah tidak terbatas&#8221;.</p>
<p>Bismillah.<br />
Berkata imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh:<br />
&#8220;Sungguh, hidayah tidak ada puncaknya walau seberapa jauh seorang hamba telah mencapai hidayah yang dia gapai; karena di atas hidayah (yang dia raih) ada hidayah yang lainnya, dan di atas hidayah tersebut masih ada hidayah lainnya hingga tak berpuncak.<br />
Maka tatkala seorang hamba itu bertakwa kepada Robbnya niscaya dia akan naik menuju hidayah berikutnya,<br />
da dia berada pada tambahan hidayah selama dia berada dalam penambahan ketakwaannya.<br />
<span id="more-118"></span>Manakala dia kehilangan langkah ketakwaannya maka hilanglah pula langkah hidayahnya sesuai dengan hilangnya langkah ketakwaannya;<br />
dan setiap kali dia bertakwa maka bertambahlah hidayahnya,<br />
dan manakala bertambah hidayahnya maka bertambahlah ketakwaannya&#8230;<br />
Alloh Ta&#8217;ala berfirman:<br />
إن الذين آمنوا وعملوا الصالحات يهديهم ربهم بإيمانهم<br />
&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya&#8230;&#8221;.(QS. Yunus: 9)<br />
Dan yang semakna dengan ini, firman-Nya:<br />
ويزيد الله الذين اهتدوا هدى<br />
&#8220;Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk&#8221;. (QS. Maryam: 76)<br />
Dan firman-Nya:<br />
يا أيها الذين آمنوا إن تتقوا الله يجعل لكم فرقانا<br />
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan..&#8221; (QS. al-Anfaal: 29).<br />
(Dinukil dari kitab &#8220;Majmu&#8217;ul Qoyyim min kalam Ibnil Qoyyim&#8221;, Manshur bin Muhammad jilid.1 hal.102-103 Cet. Dar at-Thoyyibah)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kehidupanhati.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kehidupanhati.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kehidupanhati.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kehidupanhati.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kehidupanhati.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kehidupanhati.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kehidupanhati.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kehidupanhati.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kehidupanhati.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kehidupanhati.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kehidupanhati.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kehidupanhati.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kehidupanhati.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kehidupanhati.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kehidupanhati.wordpress.com&amp;blog=20665019&amp;post=118&amp;subd=kehidupanhati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/08/13/hidayah-tidak-terbatas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b29cd661784c5ed1a3fc85d842b0b2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kehidupanhati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Peribadatan hati lebih agung dari peribadatan tubuh&#8221;</title>
		<link>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/08/12/peribadatan-hati-lebih-agung-dari-peribadatan-tubuh/</link>
		<comments>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/08/12/peribadatan-hati-lebih-agung-dari-peribadatan-tubuh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Aug 2011 23:51:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kehidupan hati</dc:creator>
				<category><![CDATA[nasehat ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kehidupanhati.wordpress.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Peribadatan hati lebih agung dari peribadatan tubuh&#8221;. Bismillah. Berkata imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah rohimahulloh: &#8220;Barangsiapa yang benar-benar memperhatikan syariat dari dasar dan sumbernya niscaya dia dapat mengetahui keterkaitan antara amalan-amalan tubuhnya dengan amalan-amalan hati, dan amalan-amalan tubuh tidaklah bermanfaat jika tanpa adanya amalan-amalan hati, sehingga amalan-amalan hati lebih wajib (utama) bagi seorang hamba dari amalan-amalan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kehidupanhati.wordpress.com&amp;blog=20665019&amp;post=116&amp;subd=kehidupanhati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Peribadatan hati lebih agung dari peribadatan tubuh&#8221;.</p>
<p>Bismillah.</p>
<p>Berkata imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah rohimahulloh:<br />
&#8220;Barangsiapa yang benar-benar memperhatikan syariat dari dasar dan sumbernya niscaya dia dapat mengetahui keterkaitan antara amalan-amalan tubuhnya dengan amalan-amalan hati,<br />
dan amalan-amalan tubuh tidaklah bermanfaat jika tanpa adanya amalan-amalan hati,<br />
sehingga amalan-amalan hati lebih wajib (utama) bagi seorang hamba dari amalan-amalan tubuhnya,<br />
dan bukankah seorang mu&#8217;min terbedakan dari munafik melainkan dengan apa yang ada di dalam hati setiap dari keduanya dari amalan-amalan yang dapat membedakan keduanya?<br />
dan bukankah seseorang dapat masuk ke dalam Islam melainkan dengan amalan hatinya sebelum amalan tubuhnya?<br />
Maka peribadatan hati lebih agung, lebih banyak dan lebih abadi dari peribadatan anggota tubuh;<br />
karena peribadatan hati wajib disetiap waktunya.</p>
<p>Oleh karenanya keimanan merupakan kewajiban hati yang harus senantiasa ada,<br />
sedangkan (amalan) Islam merupakan kewajiban anggota tubuh yang ditunaikan pada waktunya saja&#8221;.</p>
<p>(Dinukil dari kitab &#8220;Majmu&#8217;ul Qoyyim min kalam Ibnil Qoyyim fid da&#8217;wah wat tarbiyyah wa a&#8217;malil qulub&#8221;, Manshur bin Muhammad jilid.1 hal.100 cet. Dar at-thoyyibah)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kehidupanhati.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kehidupanhati.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kehidupanhati.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kehidupanhati.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kehidupanhati.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kehidupanhati.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kehidupanhati.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kehidupanhati.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kehidupanhati.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kehidupanhati.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kehidupanhati.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kehidupanhati.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kehidupanhati.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kehidupanhati.wordpress.com/116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kehidupanhati.wordpress.com&amp;blog=20665019&amp;post=116&amp;subd=kehidupanhati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/08/12/peribadatan-hati-lebih-agung-dari-peribadatan-tubuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b29cd661784c5ed1a3fc85d842b0b2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kehidupanhati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8217;bout Love&#8230;^^</title>
		<link>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/05/02/bout-love/</link>
		<comments>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/05/02/bout-love/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 May 2011 06:33:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kehidupan hati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kehidupanhati.wordpress.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[Bismillaah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dlm Majmu&#8217; Fatawa : &#8220;Adapun manusia maka sebagian mencintai sebagian yg lain dikarenakan yg dicintainya itu sebagai penyebab datangnya kebaikan kpd dia &#38; jiwa manusia telah diberi naluri untuk cinta kpd orang yg tlh berbuat baik kpdnya akan tetapi hal ini hakekatnya adlh cinta kpd kebaikan bukan cinta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kehidupanhati.wordpress.com&amp;blog=20665019&amp;post=105&amp;subd=kehidupanhati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillaah</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dlm Majmu&#8217; Fatawa : &#8220;Adapun manusia maka sebagian mencintai sebagian yg lain dikarenakan yg dicintainya itu sebagai penyebab datangnya kebaikan kpd dia &amp; jiwa manusia telah diberi naluri untuk cinta kpd orang yg tlh berbuat baik kpdnya<br />
akan tetapi hal ini hakekatnya adlh <strong>cinta kpd kebaikan bukan cinta kpd orang yg tlh berbuat baik kpdnya, buktinya kalau ia stop kebaikan kpdnya cintanya akan melemah, bahkan bisa berbalik mnjdi kebencian, hal ini ssungguhnya BUKAN cinta krn Allah. </strong><br />
Sesungguhnya siapa saja yg mencintai orang lain dikarenakan ia memberinya, mk ia hanya cinta kpd pemberian, apabila ia berkata sesungguhnya ia cinta kpd orang yg memberinya itu krn Allah mk dia tlh berdusta, ucapan palsu &amp; mustahil, begitu pula siapa sj yg mencintai orang lain dikarenakan ia menolongnya mk ia hanya cinta kpd pertolongan.<br />
<span id="more-105"></span>Ini dikarenakan ia menolongnya mk ia hanya cinta kpd pertolongan. Ini semua trmsuk mengikuti hawa nafsu, krn pd hakekatnya ia cinta hanya kpd apa yg sampai kpd dia berupa mendapatkan manfaat atau terhindarnya dari suatu mudharat, mk dia hanya cinta kpd manfaat atau terhindarnya dari mudharat, sesungguhnya ia cinta kpd orang itu krn orang trsbt merupakan sarana untuk mencapai apa yang ia cintai, jadi ini bukan cinta krn Allah &amp; ia tidak cinta kpd orang tadi. Pada umumnya percintaan antara manusia sebagian trhdp yg lain berlangsung atas yg demikian, kalau begitu mereka tdk akan diberi ganjaran di akhirat &amp; percintaannya tdk memberi manfaat kpd mrk, bahkan mungkin percintaan itu menyebabkan kpd kemunafikan &amp; sikap hipokrit.<br />
Mereka itu di akhirat menjadi musuh sebagian terhadap yg lain, padahal sblmnya adlh orang2 bersahabat. Hanya sj yg bermanfaat bg mrk di akhirat adlh cinta di jalan Allah &amp; krn Allah. Adapun orang yg mengharapkan manfaat &amp; pertolongan, kemudian dia mengaku bhw dia mencintainya krn Allah, mk ini muncul dari kejahatan jiwa &amp; kemunafikan<br />
ucapan.&#8221;</p>
<p>baarakallahu fiikum</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kehidupanhati.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kehidupanhati.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kehidupanhati.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kehidupanhati.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kehidupanhati.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kehidupanhati.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kehidupanhati.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kehidupanhati.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kehidupanhati.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kehidupanhati.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kehidupanhati.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kehidupanhati.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kehidupanhati.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kehidupanhati.wordpress.com/105/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kehidupanhati.wordpress.com&amp;blog=20665019&amp;post=105&amp;subd=kehidupanhati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/05/02/bout-love/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b29cd661784c5ed1a3fc85d842b0b2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kehidupanhati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>.: sulitnya kesabaran :.</title>
		<link>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/04/20/sulitnya-kesabaran/</link>
		<comments>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/04/20/sulitnya-kesabaran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Apr 2011 06:14:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kehidupan hati</dc:creator>
				<category><![CDATA[nasehat ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kehidupanhati.wordpress.com/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Seorang hamba akan merasakan beratnya menanamkan pada dirinya kesabaran apabila ada pada dirinya dua perkara: 1. Adanya faktor pendorong yang kuat untuk melakukan suatu perbuatan 2. Mudahnya fasilitas untuk melakukan perbuatan tersebut. Apabila keduanya terdapat pada diri seseorang, maka bersabar amat berat baginya, dan jika keduanya tidak ada pada diri seseorang, maka bersabar akan mudah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kehidupanhati.wordpress.com&amp;blog=20665019&amp;post=101&amp;subd=kehidupanhati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang hamba akan merasakan beratnya menanamkan pada dirinya kesabaran apabila ada pada dirinya dua perkara:<br />
1. Adanya faktor pendorong yang kuat untuk melakukan suatu perbuatan<br />
2. Mudahnya fasilitas untuk melakukan perbuatan tersebut.</p>
<p><span id="more-101"></span>Apabila keduanya terdapat pada diri seseorang, maka bersabar amat berat baginya, dan jika keduanya tidak ada pada diri seseorang, maka bersabar akan mudah baginya. Dan adapun jika terdapat salah satu dari keduanya maka bersabar akan mudah dari satu sisi dan berat dari sisi yang lain.</p>
<p>Sebagai contoh: Seseorang yang tidak memiliki keinginan untuk membunuh, mencuri, meminum khamar, atau perbuatan keji lainnya, maka bersabar akan mudah baginya. Sebaliknya, seseorang yang memiliki faktor pendorong yang kuat dan mudahnya fasilitas untuk melakukan perbuatan terlarang tersebut, maka bersabar amat berat baginya..</p>
<p>Oleh karena itu, sabarnya seorang pemimpin dari berbuat kezhaliman, sabarnya pemuda dari berbuat kemaksiatan, dan sabarnya saudagar kaya dari berfoya-foya memiliki keutamaan besar di sisi Allah. Bahkan mereka di masukkan ke dalam tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat.</p>
<p>Hal itu disebabkan mereka dapat bersabar, padahal pada diri mereka terpenuhi dua perkara yang memudahkan mereka melakukan kemaksiatan, yaitu: faktor pendorong yang kuat dan kemudahan fasilitas…</p>
<p>Oleh karenanya, kakek tua yang berzina, pemimpin yang berdusta, dan orang miskin yang sombong, akan mendapatkan hukuman yang maha dahsyat, disebabkan kesabaran sebenarnya amat mudah bagi mereka, karena telah melemahnya sebab pendorong kepada kemaksiatan yang ada pada diri mereka. Maka ketika mereka tidak bersabar padahal itu mudah bagi mereka, hal itu sebagai bukti atas kedurhakan mereka kepada Allah.</p>
<p>Atas dasar ini, bersabar dari dosa-dosa lisan dan dosa kemaluan termasuk kesabaran yang sangat berat, disebabkan kuatnya faktor pendorong dan mudahnya fasilitas untuk melakukannya.</p>
<p>Disarikan dari ‘Uddatus Shobirin wa Dzakhirotus Syakirin karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah</p>
<p>http://www.facebook.com/profile.php?id=100002255362922#!/notes/ummu-maryam-al-indunisiyyah/-sulitnya-kesabaran-/109001552518356</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kehidupanhati.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kehidupanhati.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kehidupanhati.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kehidupanhati.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kehidupanhati.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kehidupanhati.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kehidupanhati.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kehidupanhati.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kehidupanhati.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kehidupanhati.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kehidupanhati.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kehidupanhati.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kehidupanhati.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kehidupanhati.wordpress.com/101/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kehidupanhati.wordpress.com&amp;blog=20665019&amp;post=101&amp;subd=kehidupanhati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/04/20/sulitnya-kesabaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b29cd661784c5ed1a3fc85d842b0b2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kehidupanhati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>kandungan hadist jibril (the last sesion)</title>
		<link>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/04/16/kandungan-hadist-jibril-the-last-sesion/</link>
		<comments>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/04/16/kandungan-hadist-jibril-the-last-sesion/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Apr 2011 10:16:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kehidupan hati</dc:creator>
				<category><![CDATA[hadist]]></category>
		<category><![CDATA[4]]></category>
		<category><![CDATA[jibril]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kehidupanhati.wordpress.com/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[[ Kemudian orang itu pergi, setelah berlalu beberapa waktu ] dalam riwayat Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah dengan lafazh, “Setelah berlalu tiga hari.”   [ beliau berkata, ‘wahai Umar, tahukah kamu siapa yang bertanya? ] Yang nampak dari kedua riwayat ini bahwa Nabi belum memberitahu para shahabat tentang orang tersebut kecuali setelah berlalu tiga hari. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kehidupanhati.wordpress.com&amp;blog=20665019&amp;post=98&amp;subd=kehidupanhati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>[ Kemudian orang itu pergi, setelah berlalu beberapa waktu ]</em></strong><em> </em>dalam riwayat Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah dengan lafazh, <em>“Setelah berlalu tiga hari</em>.”</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>[ beliau berkata, ‘wahai Umar, tahukah kamu siapa yang bertanya? ]</em></strong> Yang nampak dari kedua riwayat ini bahwa Nabi belum memberitahu para shahabat tentang orang tersebut kecuali setelah berlalu tiga hari. Namun dalam riwayat lain dijelaskan bahwa Nabi langsung memberitahu para shahabat tentang orang tersebut disaat itu juga, sebagaimana dalam riwayat Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, “Kemudian orang itu pergi. Maka Rasulullah bersabda, <em>‘panggil dia kembali’</em> merekapun mencarinya namun tidak menemukannya. Kata Rasulullah, ‘ia adalah Jibril, datang untuk mengajarkan manusia tentang agama mereka” Demikian pula dalam riwayat Sulaiman At Taimi, “Setelah orang itu berpaling, Rasulullah bersabda, <em>‘panggil dia kembali’</em> maka kami mencarinya dengan susah payah namun kami tidak mampu menemukannya. Kata beliau, ‘tahukah kamu siapa orang itu?&#8230;’.”</p>
<p>Menanggapi perbedaan riwayat ini Imam Nawawi menjelaskan, “Sangat mungkin kedua riwayat (yang tampaknya berbeda ini ) untuk dikompromikan, yaitu bahwa ‘Umar <em>Radhiallahu ‘anhu </em>tidak hadir ketika Nabi r memberitahu para shahabat (tentang orang tersebut) di majelis itu, karena Umar langsung beranjak darinya. Maka Nabi r memberi tahu para shahabat seketika itu juga dan memberi tahu Umar setelah berlalu tiga hari.” Menanggapi penjelasan Imam Nawawi ini, Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Ini adalah bentuk penggabungan yang bagus.”<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p><em> </em><br />
<span id="more-98"></span><br />
<strong><em>[ hanya Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu.’ jawabku ]</em></strong><em> </em>padanya terkandung faidah bahwa siapa yang ditanya tentang sesuatu yang tidak ia ketahui untuk menyandarkan ilmunya kepada yang mengetahui, tidak perlu memaksakan diri untuk menjawabnya. Lihatlah Rasulullah ketika ditanya tentang hari kiamat, beliau menjawab <em>“Tidaklah yang ditanya lebih tahu dari yang bertanya.”</em> Lihat juga para shahabat ketika ditanya sesuatu yang tidak mereka ketahui, mereka menjawab, “Hanya Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”</p>
<p>Demikian pula para salafus shalih ketika ditanya sesuatu yang tidak mereka ketahui mereka mengatakan, “Saya tidak tahu” atau “Hanya Allah yang lebih tahu.” Al-Imam Malik, pernah ditanya empat puluh permasalahan namun hanya enam yang beliau jawab selebihnya beliau katakan, “Saya tidak tahu”.</p>
<p>Al Imam Al Bukhari meriwayatkan sebuah atsar dari Abdullah bin Mas’ud bahwa ia berkata, “Wahai sekalian manusia, barangsiapa yang memiliki ilmu hendaklah ia sampaikan, dan barangsiapa yang tidak memiliki ilmu hendaklah ia ucapkan ‘Allahu a’lam’ karena termasuk ilmu kamu mengatakan tentang sesuatu yang tidak kamu ketahui ‘Allahu a’lam’.”</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><em>[ Kata beliau, ‘sesungguhnya ia adalah Jibril, datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan dien kalian. ]</em></strong> dalam riwayat lain <em>“mengajarkan kepada kalian agama kalian.”</em> Disini Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam </em>memberitakan bahwa perkara-perkara yang disebutkan dalam hadits ini semuanya adalah urusan dien, bahkan itulah dien. Karena hadits ini mengandung pokok-pokok dien dan aqidah.</p>
<p>l             <strong>Faedah Hadits</strong></p>
<p>1)             Hadits ini dikenal dengan hadits Jibril dan dijuluki oleh para ulama sebagai <em>Ummus Sunnah</em> “induknya sunnah” sebagaimana surat Al Fatihah dijuluki sebagai <em>Ummul Qur’an</em>.</p>
<p>2)             Hadits ini diriwayatkan dari Nabi oleh beberapa orang shahabat, diantaranya Umar bin Khattab, Abu Hurairah, Abu Dzar,  Ibnu Umar, Anas bin Malik, Jarir bin Abdillah, Ibnu ‘Abbas, dan Abu ‘Amir Al Asy’ari.</p>
<p>3)             Hadits ini adalah hadits pertama yang disebutkan oleh Imam Muslim dalam kitab <em>Shahih</em>-nya.</p>
<p>4)             Bahwa Malaikat bisa berubah wujud menjadi seorang manusia, tentu hal ini dengan kekuasaan dan kehendak Allah.</p>
<p>5)             Kisah kedatangan Jibril diatas mengandung beberapa adab penting dalam menuntut ilmu, diantaranya: cara duduk yang baik, merapikan pakaian, penampilan, kebersihan, dan cara bertanya kepada pengajar.</p>
<p>6)             Bolehnya bertanya kepada <em>mu’allim</em> dalam perkara-perkara yang telah ia ketahui dengan tujuan mengajarkan kepada hadirin yang belum mengetahuinya.</p>
<p>7)             Bahwa rukun islam adalimasedangkan rukun iman ada enam.</p>
<p>8)             Perbedaan antara istilah islam dengan iman, dimana dijelaskan dalam hadits diatas bahwa islam adalah untuk amal perbuatan yang tampak (seperti sholat, zakat, puasa, dll) sedangkan iman untuk amal perbuatan bathin (yang tidak tampak, seperti keimanan kepada Allah) .</p>
<p>9)             Wajibnya beriman kepada takdir. yaitu dengan mengimani empat perkara:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: beriman bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu baik secara globla atau terperinci, baik yang terdahulu atau yang akan datang.</p>
<p><strong>Kedua</strong>: beriman bahwa Allah telah mencatat semua kejadian yang terjadi sampai hari kiamat .</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: beriman bahwa segala sesuatu yang terjadi di langit dan dibumi dengan kehendak Allah.</p>
<p><strong>Keempat</strong>: beriman bahwa Allah lah yang telah menciptakan segala sesuatu yang ada,seperti menurunkan hujan, mengeluarkan tetumbuhan, dan semua perbuatan makhluknya.</p>
<p><strong>Faidah: </strong>Allah telah menentukan semua takdir makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi, sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> .</p>
<p>10)         Tidak ada yang mengetahui tegaknya hari kiamat kecuali Allah. Hal ini juga telah dijelaskan oleh Allah dalam Al Qur’an: ”<em>Sesungguhnya Allah, hanya disisi-Nya lah pengetahuan tentang hari Kiamat.</em>” (QS. Luqman:34), maka dari sini kita tahu bahwa siapa saja yang mengetahui bahwa kiamat akan tegak pada tahun, bulan, dan hari tertentu berarti ia telah berdusta karena tidak ada yang mengetahuinya kecuali hanya Allah.</p>
<p>11)         Bahwa hari kiamat memiliki tanda-tanda. Hal ini juga telah Allah sebutkan dalam Al Qur’an: “<em>Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena Sesungguhnya telah datang tanda-tandanya</em>.” (QS. Muhammad:18)</p>
<p>Paraulama membagi tanda-tanda kiamat menjadi tiga bagian:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Tanda yang telah terjadi .</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Tanda yang terus terjadi.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Tanda besar, yang mengiringi tegaknya hari kiamat. Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa Sallam </em>bersabda: “Sesungguhnya kiamat tidak akan tegak sampai kalian menyaksikan sebelumnya sepuluh tanda, asap, Dajjal, dabbah, terbitnya matahari dari arah barat, turunnya ‘Isa bin Maryam <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em>, Ya’juj dan Ma’juj, tiga gerhana; gerhana diarah timur, gerhana diarah barat, dan gerhana dijazirah arab, tanda terakahir adalah api yang muncul dari negeri Yaman yang akan menggiring manusia ke tempat berkumpul mereka.” (HR. Muslim dari Hudzaifah bin Asid t)</p>
<p>12)         Seorang Alim jika ditanya sesuatu yang tidak ia ketahui tidak segan untuk menjawab “Allahu a’lam”. Hal ini sebagai bukti sikap wara’ dan taqwanya. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> bahwa ia berkata, ‘wahai sekalian manusia! Barangsiapa yang mengetahui sesuatu hendaklah ia ucapkan, dan barangsiapa yang tidak mengetahui ucapkanlah “Allahu a’lam”, karena termasuk ilmu kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu ketahui “Allahu a’lam”…” (HR. Al Bukhari)</p>
<p>13)         Pertanyaan yang bagus dinamakan juga ilmu dan taklim, karena nabi <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> berkata “<em>Sesungguhnya ia adalah Jibril, datang kepada kalian untuk mengajari urusan agama kalian</em>.” Padahal tidak ada yang diajukan oleh Jibril kecuali pertanyaan.</p>
<p align="center">Selesai penjelasan hadits kedua dari Al-Arba’in An-Nawawiyah</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Fathul Bari (1/125)</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kehidupanhati.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kehidupanhati.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kehidupanhati.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kehidupanhati.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kehidupanhati.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kehidupanhati.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kehidupanhati.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kehidupanhati.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kehidupanhati.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kehidupanhati.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kehidupanhati.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kehidupanhati.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kehidupanhati.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kehidupanhati.wordpress.com/98/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kehidupanhati.wordpress.com&amp;blog=20665019&amp;post=98&amp;subd=kehidupanhati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/04/16/kandungan-hadist-jibril-the-last-sesion/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b29cd661784c5ed1a3fc85d842b0b2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kehidupanhati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>kandungan hadist jibril (part 4)</title>
		<link>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/04/16/kandungan-hadist-jibril-part-4/</link>
		<comments>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/04/16/kandungan-hadist-jibril-part-4/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Apr 2011 10:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kehidupan hati</dc:creator>
				<category><![CDATA[hadist]]></category>
		<category><![CDATA[4]]></category>
		<category><![CDATA[jibril]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kehidupanhati.wordpress.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[[ Ia bertanya lagi, ‘beritakan kepadaku tentang ihsan?’ beliau menjawab, ‘yaitu kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, jika kamu tidak mampu melihat-Nya pasti Dia yang melihatmu ] Makna Al Ihsan secara bahasa adalah menyempurnakan sesuatu. Ia diambil dari kata al-hasan bermakna al-jamal (keindahan) lawannya adalah al-qubhu (kejelekan). Al Ihsan terbagi menjadi tiga : Pertama: [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kehidupanhati.wordpress.com&amp;blog=20665019&amp;post=93&amp;subd=kehidupanhati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>[ Ia bertanya lagi, ‘beritakan kepadaku tentang ihsan?’ beliau menjawab, ‘yaitu kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, jika kamu tidak mampu melihat-Nya pasti Dia yang melihatmu ]</em></strong></p>
<p>Makna Al Ihsan secara bahasa adalah menyempurnakan sesuatu. Ia diambil dari kata <em>al-hasan</em> bermakna <em>al-jamal</em> (keindahan) lawannya adalah <em>al-</em>qubhu (kejelekan). Al Ihsan terbagi menjadi tiga :</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Pertama</span>: Ihsan antara seorang hamba dengan Rabbnya, inilah yang dimaksud dalam hadits ini.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Kedua</span>: Ihsan antara seorang hamba dengan manusia lainnya.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Ketiga</span>: Ihsan dalam perbuatan, jika seseorang melakukan atau membuat sesuatu maka sebuah keharusan baginya untuk memperbaiki dan memperbagusnya.</p>
<p><span id="more-93"></span>Ihsan seorang hamba kepada Rabbnya adalah menyempurnakan amalan yang telah dibebankan kepadanya dengan cara menjalankannya dengan benar serta ikhlas mencari wajah Allah. Disebut seseorang telah melakukan ihsan kepada Rabbnya ketika amalan yang dia lakukan memenuhi dua syarat, ikhlas karena Allah serta mengikuti tuntunan Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em>.</p>
<p>Dijelaskan oleh Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em> bahwa jenis pertama ini memiliki dua tingkatan:</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Pertama</span>: kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihatnya. Dengan sampainya kamu kepada puncak keyakinan dan keimanan sehingga seakan-akan kami melihat Allah dengan mata kepalamu. Tidak ada pada dirimu sedikitpun keraguan. Bahkan seakan-akan Allah ada dihadapanmu. Barangsiapa yang telah sampai pada tingkatan ini berarti dia telah sampai kepada puncak ihsan.</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>tidak dapat dilihat di dunia, akan tetapi kamu melihat-Nya dengan hatimu sehingga seakan-akan melihat dengan mata kepalamu. Tingkatan pertama ini lebih tinggi dari tingkatan kedua.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Kedua</span>: apabila kamu belum sampai ke tingkatan pertama maka hendaklah kamu beribadah dengan cara <em>muraqabah</em> (selalu merasa diawasi), dengan kamu mengetahui bahwa Allah melihatmu dan mengetahui gerak-gerikmu, mengetahui apa yang terdapat didalam hatimu, sehingga tidak pantas bagimu untuk bermaksiat kepada-Nya, dan menyelisihi perintah-Nya.</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong><em>[ Ia bertanya lagi, ‘beritakan kepadaku tentang as-sa’ah (hari kiamat) ]</em></strong> Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dengan lafazh,<em> “Kapan tegakkanya hari kiamat?”</em></p>
<p><strong><em>[ beliau menjawab. ‘tidaklah yang ditanya lebih tahu dari yang bertanya ]</em></strong> Dalam riwayat Abu Farwah: “Maka beliau menundukkan kepalanya dan tidak menjawabnya, orang tersebut kembali mengulangi pertanyaannya tapi beliau tetap tidak menjawabnya –sampai terulang tiga kali-, kemudian beliau mengangkat kepalanya seraya menjawab, ‘<em>tidaklah yang ditanya lebih tahu daripada yang bertanya.’.</em>” Maksudnya: aku dan kamu sama-sama tidak mengetahuinya, karena pengetahuan tentang hari kiamat termasuk ilmu yang disembunyikan oleh Allah, sebagaimana firman-Nya: <em>“Sesungguhnya hanya disisi Allah-lah pengetahuan tentang hari kiamat.”</em> (QS. Luqman:34)</p>
<p>Rasulullah juga bersabda, “<em>Kunci-kunci perkara ghaib ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah</em>. Diantaranya adalah: <em>‘dan tidak ada yang mengetahui kapan tegaknya hari kiamat kecuali Allah.’.</em>” (HR. Al Bukhari, dari Ibnu ‘Umar)</p>
<p>Dalam hadits Ibnu ‘Abbas, <em>“Subhanallah, ada lima perkara ghaib tidak ada yang mengetahuinya kecuali hanya Allah.”</em> Kemudian beliau membaca ayat dalam surat Luqman diatas.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa hari kiamat terjadi pada hari jum’at, Rasulullah bersabda: <em>“Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari jum’at; pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu pula ia dimasukkan ke dalam jannah, dan pada hari itu pula ia dikeluarkan darinya. Dan tidak akan tegak hari kiamat kecuali pada hari jum’at.”</em></p>
<p>Dalam riwayat Abu Daud dan Nasa’i ditambahkan bahwa hari kiamat terjadi pada waktu shubuh sebelum matahari terbit. Tahun berapa? Bulan apa? Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah.</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong><em>[ Katanya, ‘(kalau begitu) jelaskanlah kepadaku tanda-tandanya ]</em></strong><em> </em>dalam riwayat Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dengan lafazh, <em>“Akan aku beritahukan kepadamu tentang tanda-tandanya.”</em> Adapun dalam riwayat Abu Farwah dengan lafazh, <em>“Akan tetapi jika kamu mau akan aku beritahu tanda-tandanya.</em>’ Orang itu menjawab: ya.<em>”</em></p>
<p>Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan ketika menjelaskan hadits ini dalam kitabnya <em>Tsalatsatil Ushul</em> berkata, “Ya, hari kiamat memiliki tanda-tanda. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah menjelaskan hal itu; diantaranya ada tanda-tanda <em>sughra</em>, tanda-tanda <em>kubra</em>, tanda-tanda <em>mutawasith</em>, dan diantaranya juga ada tanda-tanda yang mengiringi tegaknya hari kiamat. Adapun tanda-tanda yang lain telah berlalu.</p>
<p>Paraulama’ berkata: tanda-tanda hari kiamat terbagi menjadi tiga macam: tanda-tanda <em>shaghirah</em> (kecil) dan <em>mutaqaddimah</em> (yang telah berlalu), tanda-tanda <em>mutawasithah</em> (pertengahan), dan tanda-tanda <em>kabirah</em> (besar).</p>
<p>Tanda-tanda yang kecil dan pertengahan semuanya atau mayoritasnya telah terjadi. Adapun tanda-tanda yang besar seperti keluarnya Dajjal, turunnya Isa <em>‘alaihis salam</em>, keluarnya <em>Dabbah</em>, dan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, adalah tanda yang akan keluar secara berurutan mengiringi tegaknya hari kiamat.</p>
<p><strong><em>[ beliau menjawab, ‘yaitu budak wanita melahirkan majikannya ]</em></strong><em> </em>para ulama’ berselisih pendapat dalam penafsirkan kalimat ini, diantaranya adalah bahwa wanita tawanan perang akan bertambah banyak di akhir zaman kelak. Maka anak dari hasil hubungan wanita tawanan tersebut dengan majikannya kedudukannya sama dengan majikannya, terlebih ketika si anak tersebut memiliki harta yang banyak dan mulai mengendalikan hartanya sehingga ia menjadi tuan yang ditaati. Inilah yang dimaksud seorang budak wanita melahirkan tuannya. Ada juga yang menafsirkan bahwa kelak di akhir zaman banyak budak wanita yang melahirkan anak yang dikemudian hari dilantik menjadi raja. Maka raja tersebut merupakan majikan untuk semua rakyatnya dan ibunya termasuk salah seorang rakyatnya. <em>Wallahu a’lam</em> .<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Asy Syaikh Shalih Al Fauzan menambahkan, termasuk juga dalam makna hadits ini banyaknya para anak perempuan yang durhaka kepada orang tuanya di akhir zaman kelak. Sehingga si anak seperti majikan bagi orang tuanya dengan memerintahnya, melarangnya, dan berlaku keras kepadanya.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p><strong><em>[ dan kamu menyaksikan orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berbusana, lagi fakir yang menggembala domba saling berlomba meninggikan bangunan ]</em></strong> Mereka adalah orang-orang yang tinggal di sahara, di rumah-rumah yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Pada akhir zaman mereka akan bertempat tinggal di perkotaan, dengan membangun istana-istana mega dan bangunan yang tinggi menjulang lagi luas.</p>
<p>Sebagaimana kita ketahui bahwa Rasulullah r tidak pernah berbicara dengan hawa nafsu. Maka kita perhatikan sekarang bagaimana keadaan manusia. Sungguh telah berubah keadaan mereka, yang dahulu miskin telah menjadi saudagar kaya, yang dahulu hidup berpindah-pindah sekarang telah menetap dan membangun bangunan yang tinggi menjulang. Ini tidak lain adalah kenyataan yang telah dikhabarkan oleh Rasulullah.<br />
Makna sabda Rasulullah “meninggikan bangunan” dalam hadits ini adalah meninggikan tingkatan bangunannya atau memperluas bangunannya serta memperbanyak ruangannya.</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat <em>Hasyiyah Tsalatsatil Ushul</em>, Ibnu Qasim.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat <em>Hushulul Makmul</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat <em>Syarhu Tsalatsatil Ushul</em>, Asy-Syaikh Al Fauzan</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kehidupanhati.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kehidupanhati.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kehidupanhati.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kehidupanhati.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kehidupanhati.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kehidupanhati.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kehidupanhati.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kehidupanhati.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kehidupanhati.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kehidupanhati.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kehidupanhati.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kehidupanhati.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kehidupanhati.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kehidupanhati.wordpress.com/93/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kehidupanhati.wordpress.com&amp;blog=20665019&amp;post=93&amp;subd=kehidupanhati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/04/16/kandungan-hadist-jibril-part-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b29cd661784c5ed1a3fc85d842b0b2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kehidupanhati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>kandungan hadist jibril (part 3)</title>
		<link>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/04/16/kandungan-hadist-jibril-part-3/</link>
		<comments>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/04/16/kandungan-hadist-jibril-part-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Apr 2011 09:28:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kehidupan hati</dc:creator>
				<category><![CDATA[hadist]]></category>
		<category><![CDATA[3]]></category>
		<category><![CDATA[jibril]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kehidupanhati.wordpress.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[[ Orang itu menjawab, ‘engkau benar’ Umar berkata, ‘Kami heran dengan orang ini, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan ] Karena kebiasaan orang yang bertanya tentang suatu perkara adalah tidak mengetahui jawabannya, maka dari itu dia bertanya agar mengetahui jawabannya. Orang yang seperti ini keadaannya tidak mungkin mengatakan kepada yang ditanya “Kamu benar”, karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kehidupanhati.wordpress.com&amp;blog=20665019&amp;post=87&amp;subd=kehidupanhati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>[ Orang itu menjawab, ‘engkau benar’ Umar berkata, ‘Kami heran dengan orang ini, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan ]</em></strong><em> </em>Karena kebiasaan orang yang bertanya tentang suatu perkara adalah tidak mengetahui jawabannya, maka dari itu dia bertanya agar mengetahui jawabannya. Orang yang seperti ini keadaannya tidak mungkin mengatakan kepada yang ditanya “Kamu benar”, karena kalau dia mengatakan seperti itu menunjukkan bahwa dia telah mengetahui jawabannya. Oleh karena itu, para shahabat sangat keheranan dengan perbuatan orang asing tersebut.</p>
<p><strong><em>[Ia bertanya lagi, ‘beritakan kepadaku tentang iman?’ beliau menjawab, ‘kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.’ Katanya lagi, ‘engkau benar ]</em></strong></p>
<p>Jawaban ini mencakup rukun iman yang enam, yang pertama adalah beriman kepada Allah, ia merupakan ukuran sahnya keimanan seseorang kepada rukun iman lainnya. Maka barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dia dianggap tidak beriman kepada selainnya.</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong><em>[ kamu beriman kepada Allah ]</em></strong><em> </em>beriman kepada Allah mencakup empat perkara:</p>
<p>-   Beriman dengan keberadaan Allah.</p>
<p>-   Beriman dengan rububiyah Allah.</p>
<p>-   Beriman dengan uluhiyah Allah.</p>
<p>-   Beriman dengan nama dan sifat-sifat Allah. Maksudnya: menetapkan apa yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya di dalam Al-Qur’an atau didalam sunnah Rasulullah berupa nama dan sifat-sifat-Nya sesuai dengan kemulian dan keagungan-Nya, tanpa membelokkan maknanya, menolaknya, menanyakan bagaimana bentuk sifat Allah, dan tidak menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya, karena Allah berfirman:</p>
<p dir="RTL"><strong>{ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ }</strong></p>
<p><em>“Tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan Allah. Dan Dia-lah Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”</em> (QS. Asy Syura:11)</p>
<p><span id="more-87"></span><strong><em>[ malaikat-malaikat-Nya ]</em></strong> ini adalah rukun iman kedua, yaitu beriman kepada para malaikat. Para malaikat adalah makhluk yang hidup di alam ghaib, mereka diciptakan dari cahaya. Allah menciptakan mereka untuk beribadah kepada-Nya, dan untuk menjalankan tugas yang telah dibebankan kepada mereka. Tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali hanya Allah, Allah berfirman: <em>“Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu kecuali hanya Dia.”</em> (QS. Al Mudatsir:31). Juga yang menunjukkan banyaknya jumlah mereka adalah hadits yang diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim tentang keadaan <em>baitul makmur</em>, Rasulullah bersabda: <em>“Sesungguhnya baitul makmur berada di atas langit yang ketujuh setentang dengan ka’bah, setiap hari di kunjungi oleh tujuh puluh ribu malaikat kemudian (yang telah masuk) tidak akan kembali lagi”</em>.</p>
<p>Paramalaikat berjenis-jenis, masing-masing mereka mempunyai tugas khusus. Mereka tidak pernah durhaka kepada tugas yang telah dibebankan kepada mereka.</p>
<p>*Diantara mereka ada yang bertugas menyampaikan wahyu kepada para Nabi dan Rasul, dia adalah Jibril, malaikat termulia. Dialah yang dijuluki sebagai <em>ruhul amin </em>(ruh yang terpercaya) dan <em>syadidul quwa</em> (yang gagah perkasa).</p>
<p>*Diantara mereka ada yang bertugas memikul <em>arsy</em><a title="" href="#_ftn1">[1]</a>, Allah berfirman: <em>“(Malaikat-malaikat) yang memikul &#8216;Arsy.”</em> (QS. Ghafir:7)<em></em></p>
<p><em>“Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung &#8216;Arsy Rabb-mu di atas (kepala) mereka.”</em> (QS. Al Haqqah:17).</p>
<p><em>Arsy</em> adalah makhluk Allah yang paling agung, tidak ada yang mengetahui keagungannya kecuali Allah, dia dipikul oleh para malaikat. Ini menunjukkan keagungan para malaikat dan keperkasaan mereka, Allah berfirman, <em>“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. “</em> (QS. Fathir:1).</p>
<p>Diantara mereka ada yang memiliki enam ratus sayap seperti Jibril ‘<em>alaihis salam </em>maka tidak ada yang mengetahui keagungan mereka kecuali hanya Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala,</em> <em>“Dan mereka berkata: “Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan * Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah perintah-Nya.”</em> (QS. Al Anbiya’:26-27)<em></em></p>
<p>*Diantara mereka ada yang bertugas menurunkan hujan dan menumbuhkan tetumbuhan, dia adalah Mikail.<em></em></p>
<p>*Diantara mereka ada yang bertugas meniup sangkakala, dia adalah Israfil. Ketika ditiup sangkakala pertama binasalah segala sesuatu yang ada dilangit dan di bumi kecuali yang dikehendaki Allah. Allah berfirman “<em>Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah semua yang ada di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah.”</em> Kemudian ditiup sangkakala kedua maka setiap ruh kembali kepada jasadnya masing-masing, “<em>Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (keputusannya masing-masing).”</em> (QS. Az Zumar:26).</p>
<p>*Diantara mereka ada yang bertugas mencabut nyawa, dia adalah malaikat maut, Allah berfirman: <em>“</em><em>Katakanlah: &#8220;Malaikat maut yang ditugasi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Rabbmulah kamu akan dikembalikan.”</em> (QS. As Sajadah:11). Malaikat maut didalam menjalankan tugasnya dibantu oleh para malaikat lainnya, <em>“Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak pernah melalaikan kewajibannya.”</em> (QS. Al An’am:61). “<em>malaikat-malaikat Kami</em>” maksudnya adalah para malaikat yang membantu malaikat maut.</p>
<p>Disebutkan dalam beberapa atsar bahwa nama malaikat maut adalah ‘Izrail, namun atsar-atsar tersebut tidak ada yang shahih, Asy Syaikh Al Albani berkata, “Aku katakan: (malaikat maut) inilah namanya yang disebutkan di dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Adapun penamaannya dengan ‘Izrail sebagaimana yang tersebar luas ditengah-tengah kaum muslimin sebenarnya tidak ada dasarnya, ia hanyalah kisah <em>israiliyat</em>.”<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>*Diantara mereka ada yang bertugas mengurusi janin didalam kandungan, Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam </em>bersabda: <em>“Sesungguhnya salah seorang kalian dikumpulkan penciptaannya didalam perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu seperti itu pula, kemudian menjadi sekerat daging dalam waktu seperti itu pula, kemudian setelah itu diutus kepadanya seorang malaikat.”</em> (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Mas’ud)</p>
<p>*Diantara mereka ada yang bertugas mencatat gerak gerik anak adam, Allah berfirman: “<em>Padahal. Sesungguhnya bagimu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu) * Yang memiliki kemuliaan dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu).”</em> (QS. Al-Infithar:11-11)<em></em></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam </em>bersabda: <em>“Saling bergantian untuk mengawasi kalian malaikat diwaktu malam dan malaikat diwaktu siang.”</em> (HR.Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah). Mereka berkumpul pada waktu shalat shubuh dan shalat ashar untuk menyaksikan orang-orang yang melakukan shalat, sebagaimana firman Allah: <em>“Dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”</em> (QS. Al-Isra’:78)</p>
<p>*Diantara mereka ada yang bertugas menjaga anak adam dari perkara-perkara yang membahayakan, seperti bahaya musuh, binatang buas, binatang berbisa, ular dan sebagainya. Ketika seseorang tidur dihutan atau dipadang pasir, siapakah yang menjaganya dari sengatan binatang berbisa dan dari terkaman binatang buas atau dari kejahatan musuh? Bersamanya ada malaikat yang Allah tugaskan untuk menjaganya dari kejelekan, Allah berfirman: <em>“</em><em>Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah”</em> (QS. Ar Ra’du:11) maksudnya: mereka dengan perintah Allah menjaga anak adam dari kejelekan dan mara bahaya sampai waktu yang telah ditentukan. Maka apabila telah datang ajalnya mereka berpaling darinya sehingga terjadilah apa yang telah ditentukan Allah kepada mereka berupa kematian atau musibah.</p>
<p>*Diantara mereka ada yang bertugas menunaikan perintah Allah di penjuru langit dan bumi, tidak ada yang mengetahui keadaan mereka kecuali hanya Allah.</p>
<p>*Diantara mereka ada yang bertugas mencari majelis dzikir dan menghadirinya sebagaimana sabda Rasulullah: <em>“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca kitabullah dan saling mempelajarinya diantara mereka melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, dan mereka akan diliputi rahmat, dan akan dinaungi oleh para malaikat.”</em> (HR. Muslim, dari Abu Hurairah).</p>
<p>Demikian pula sabda beliau, <em>“Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala memiliki para malaikat yang berkeliling mencari majelis dzikir. Apabila para malaikat tersebut telah menemukan sebuah majelis dzikir mereka duduk bersama mereka…”</em> (HR. Muslim, dari Abu Hurairah)</p>
<p>*Diantara mereka ada yang bertugas menanyai mayit didalam kuburnya, dia adalah Munkar dan Nakir. Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam </em>bersabda, <em>“Apabila jenazah telah dikuburkan, ia akan didatangi oleh dua malaikat yang hitam wajahnya, biru kedua matanya, yang satu disebut Munkar dan yang lain disebut Nakir.”</em> (HR. Ath-Thabarani, dari Abu Hurarah dan dihasankan Syaikh Al Albani)</p>
<p>*Diantara mereka ada yang bertugas menjaga neraka jahannam, dia adalah Malik.</p>
<p>*Diantara mereka ada yang bertugas menjaga surga, dia adalah Ridhwan.</p>
<p>Tidak ada yang mengetahui bentuk dan sifat para malaikat kecuali Allah. Namun yang telah dijelaskan di dalam Al Qur’an dan As-Sunnah yang shahih wajib kita imani dan yakini, adapun yang tidak disebutkan tidak boleh bagi kita untuk menafsirkannya dengan logika kita, karena hal ini bagian dari perkara ghaib, sehingga tidak boleh menetapkan atau meniadakan kecuali dengan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah.</p>
<p>Maka beriman kepada para malaikat termasuk dalam rangkaian rukun iman, barangsiapa yang mengingkari keberadaan para malaikat dengan mengatakan “malaikat tidak ada karena kita tidak melihatnya.” Atau menafsirkan malaikat dengan sebuah simbol kebaikan, maka ia telah kafir, mulhid, dan zindiq.<em> Wal ‘iyadzu billah</em>.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p><strong><em>[ kitab-kitab-Nya ]</em></strong> yaitu kitab-kitab yang telah diturunkan Allah kepada para Rasul sebagai petunjuk bagi umat manusia. Kita beriman bahwa kitab-kitab itu benar-benar <em>kalamullah</em> (ucapan Allah). Kita juga beriman kepada kitab-kitab yang telah disebutkan namanya seperti Taurat, Zabur, Injil, al-Qur’an, Shuhuf Ibrahim dan Musa, dan juga beriman kepada kitab-kitab yang tidak disebutkan namanya.</p>
<p>Kewajiban mengimani kitab-kitab terdahulu hanya secara globlal, adapun Al Qur’an harus diimani secara terperinci, karena ia adalah kitab suci kita yang diturunkan kepada Nabi Muhammad <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em>.</p>
<p>Barangsiapa yang mengingkari satu ayat Al Qur’an atau satu hurufnya maka ia kafir, keluar dari islam (murtad). Demikian pula orang yang beriman dengan sebagian kandungan Al Qur’an dan mengingkari sebagiannya, atau beriman dengan sebagian kitab dan mengingkari sebagian lainnya.</p>
<p>Dan barangsiapa mengatakan saya beriman kepada Al Qur’an tapi tidak beriman kepada Taurat atau saya beriman kepada Taurat dan Injil tapi tidak beriman kepada Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud. Atau tidak beriman kepada Shuhuf Musa dan Ibrahim, maka ia juga kafir, karena telah mendustakan Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p><strong><em>[ rasul-rasul-Nya ]</em></strong><em> </em>beriman kepada para rasul seluruhnya, dari awal sampai akhir. Juga beriman kepada para rasul yang telah disebutkan namanya oleh Allah atau yang tidak disebutkan namanya. Mereka adalah benar-benar utusan Allah yang mengemban risalah dan telah menyampaikannya kepada umatnya masing-masing.</p>
<p>Barangsiapa yang mendustakan salah seorang nabi atau rasul maka pada hakekatnya ia telah mendustakan seluruh para Rasul, berdasarkan firman Allah, <em>“Kaum Nuh telah mendustakan para Rasul.”</em> (QS. Asy Syu’ara:105) padahal tidak ada yang mereka dustakan kecuali Nabi Nuh, namun Allah menggolongkan mereka telah mendustakan seluruh para Rasul. Demikian pula yang mendustakan ‘Isa dan Muhammad seperti orang-orang Yahudi atau mendustakan Muhammad seperti orang-orang Nashara maka mereka pada hakekatnya telah mendustakan seluruh para rasul.</p>
<p>Diantara para Rasul yang telah Allah sebutkan namanya adalah sebagaimana yang tertera dalamsuratAl An’am ayat 83 sampai ayat 86:</p>
<p><em>“</em><em>Dan Itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui * Dan Kami telah menganugerahkan untuknya Ishak dan Yaqub. masing-masing keduanya telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik * Dan Zakariya, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh * Dan Ismail, Ilyasa&#8217;, Yunus dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya).”</em></p>
<p><strong><em>[ hari akhir ]</em></strong><em> </em>beriman kepada hari akhir adalah rukum iman ke lima. Beriman kepada hari akhir maksudnya adalah beriman kepada hari kiamat. Dinamakan dengan hari akhir karena ia terjadi setelah hari pertama yaitu hari dunia. Dunia adalah hari pertama dan kiamat adalah hari terakhir.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Termasuk beriman kepada hari akhir ialah beriman kepada semua peristiwa yang terjadi setelah kematian, berupa adzab kubur, nikmat kubur, dan pertanyaan kubur. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah </em>berkata, “Dan termasuk beriman kepada hari akhir adalah beriman dengan semua yang telah dijelaskan oleh Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam </em>dari perkara-perkara yang akan terjadi setelah kematian.”<a title="" href="#_ftn5">[5]</a> Asy Syaikh Al Fauzan menambahkan, “Demikian pula peristiwa yang terjadi ketika sakaratul maut.”<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Juga termasuk beriman kepada hari akhir ialah beriman kepada hari berbangkit, hari mahsyar, perhitungan amal, timbangan amal, jembatan diatas jahannam, surga, neraka, telaga para nabi, dan semua yang terjadi sejak kematian sampai dimasukkannya penduduk surga ke dalam surga dan penduduk neraka ke dalam neraka.</p>
<p><strong><em>[ dan beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk ]</em></strong> yakni beriman bahwa semua yang terjadi di alam semesta ini, berupa kebaikan atau kejelekan, keimanan atau kekufuran, kenikmatan atau kesengsaraan, kelapangan atau kesempitan, kesehatan atau rasa sakit, kehidupan atau kematian, semuanya telah ditentukan takdirnya oleh Allah, bukan sesuatu yang terjadi begitu saja. Allah berfirman, <em>“Tidaklah sebuah musibah yang terjadi di muka bumi atau pada diri-diri kalian kecuali telah ditulis didalam sebuah kitab (lauhul mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya hal itu amat mudah bagi Allah.”</em> (QS. Al Hadid:22)</p>
<p>Beriman dengan takdir terdiri dari empat tingkatan, barangsiapa yang tidak beriman dengan keseluruhannya maka ia belum dikatakan beriman kepada takdir :</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Tingkatan pertama</span>: al Ilmu, yaitu beriman bahwa Allah telah mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Tingkatan kedua</span>: penulisan catatan takdir di <em>lauhul mahfuzh</em>, yaitu beriman bahwa Allah telah menulis segala sesuatu di <em>lauhul mahfuzh</em>. Tidak ada sesuatu apapun yang terjadi di alam semesta ini melainkan telah tertulis didalamnya. Allah berfirman: <em>“Tidaklah sebuah musibah yang terjadi di muka bumi atau pada diri-diri kalian kecuali telah ditulis didalam sebuah kitab (lauhul mahfuzh).”</em></p>
<p>Rasulullah juga bersabda: <em>“Makhluk pertama yang Allah ciptakan adalah pena, Allah berfirman: ‘tulislah.’ Pena menjawab: ‘apa yang perlu aku tulis?’ Allah berfirman: ‘tulislah segala sesuatu yang akan terjadi sampai hari kiamat.’.”</em> (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dari ‘Ubadah bin Shamit)</p>
<p>Barangsiapa yang mengingkari penulisan takdir dengan mengatakan “Allah telah mengetahui segala sesuatu tapi tidak menulisnya didalam <em>lauhul mahfuzh</em> maka ia kafir, murtad dari islam.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Tingkatan ketiga</span>: kehendak Allah, yaitu beriman bahwa Allah Maha Menghendaki sesuatu dan menginginkannya. Tidak ada sesuatu yang terjadi kecuali dengan kehendak Allah. Barangsiapa yang mengatakan bahwa sesuatu yang terjadi bukan karena kehendak Allah maka ia kafir.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Tingkatan keempat</span>: penciptaan dan pengadaan, yaitu beriman bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Apabila Allah menghendaki sesuatu maka akan Ia ciptakan.</p>
<p>Empat perkara di atas dirangkum oleh Ibnul Qoyyim dalam bait syi’irnya:</p>
<p dir="RTL">
<p dir="RTL" align="center"><strong>عِلْمٌ كِتَابَةُ مَوْلاَنَا مَشِيْئَتُهُ      وَخَلْقُهُ وَهُوَ إِيْجَادٌ وَتَكْوِيْنُ</strong></p>
<p><em>“Ilmu, penulisan maulana, kehendak-Nya</em></p>
<p><em>            Dan penciptaan-Nya yaitu pengadaan dan pengaturan”</em></p>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Arsy adalah tempat berpijaknya kaki Allah Yang Maha mulia.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat kitab beliau Takhrij Thahawiyah, hal:72</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat <em>Syarhu Tsalatsatil Ushul</em>, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, dan <em>Umdatul Qari syarhu Syarhis Sunnah lil Barbahari</em>, Al-Ustadz Luqman Ba’abduh.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> <em>Syarhu Tsalatsatil Ushul</em>, Syaikh Shalih Al Fauzan</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Al ‘Aqidah Al Wasithiyyah</em>, hal.20</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> <em>Syarhu Al ‘Aqidah Al Wasithiyyah</em></p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kehidupanhati.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kehidupanhati.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kehidupanhati.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kehidupanhati.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kehidupanhati.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kehidupanhati.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kehidupanhati.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kehidupanhati.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kehidupanhati.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kehidupanhati.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kehidupanhati.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kehidupanhati.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kehidupanhati.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kehidupanhati.wordpress.com/87/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kehidupanhati.wordpress.com&amp;blog=20665019&amp;post=87&amp;subd=kehidupanhati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/04/16/kandungan-hadist-jibril-part-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b29cd661784c5ed1a3fc85d842b0b2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kehidupanhati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>kandungan hadist jibril (part 2)</title>
		<link>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/04/07/kandungan-hadist-jibril-part-2/</link>
		<comments>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/04/07/kandungan-hadist-jibril-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Apr 2011 02:02:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kehidupan hati</dc:creator>
				<category><![CDATA[hadist]]></category>
		<category><![CDATA[2]]></category>
		<category><![CDATA[jibril]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kehidupanhati.wordpress.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[[ beritakan kepadaku tentang islam? ] dalam riwayat Muslim ini pertanyaan Jibril dimulai dengan permasalahan islam. Namun pada riwayat Tirmidzi dimulai dengan permasalahan iman demikian pula pada riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah juga dimulai dengan permasalahan iman. Dan dalam riwayat lainnya pertanyaan tentang permasalahan ihsan setelah permasalahan islam, padahal dalam riwayat Muslim ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kehidupanhati.wordpress.com&amp;blog=20665019&amp;post=81&amp;subd=kehidupanhati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>[ beritakan kepadaku tentang islam? ]</em></strong><em> </em>dalam riwayat Muslim ini pertanyaan Jibril dimulai dengan permasalahan islam. Namun pada riwayat Tirmidzi dimulai dengan permasalahan iman demikian pula pada riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah juga dimulai dengan permasalahan iman. Dan dalam riwayat lainnya pertanyaan tentang permasalahan ihsan setelah permasalahan islam, padahal dalam riwayat Muslim ini pertanyaan tentang permasalahan ihsan setelah permasalahan iman. Menanggapi perbedaan riwayat ini Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam <em>Fathul Bari</em> (1/117) menjelaskan, “Sesungguhnya kisah hadits ini hanya terjadi sekali dan para perawi hadits berbeda-beda ketika mengungkapkannya; sebagian mereka mendahulukan dan sebagian lagi mengakhirkan, dan susunannya juga tidak berurutan.”<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong><em>[ Beliau menjawab, ‘Islam adalah, kamu bersaksi bahwa tidak ada ilah yang hak kecuali hanya Allah dan Muhammad adalah rasulullah, engkau menegakkan shalat, membayar zakat, berpuasa dibulan ramadhan, dan berhaji jika engkau mampu mengadakan perjalanan padanya.’ Orang itu menjawab, ‘engkau benar. ]</em></strong> Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam </em>menjawab pertanyaan Jibril diatas tentang islam dengan amalan zhahir, dan ketika bertanya tentang iman beliau menjawab dengan amalan bathin. Disini menunjukkan bahwa islam dan iman apabila disebutkan secara bersamaan dalam satu konteks pembicaraan maknanya adalah islam untuk amalan zhahir seperti shalat, adapun iman bermakna amalan bathin seperti keyakinan. Akan tetapi apabila disebutkan sendirian maka islam atau iman mencakup amalan zhahir dan bathin.</p>
<p><em> </em></p>
<p><span id="more-81"></span><strong><em>[ kamu bersaksi bahwa tidak ada ilah yang hak kecuali hanya Allah ]</em></strong> Jawaban pertama yang disampaikan oleh rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam </em>adalah dua kalimat syahadat. Dua kalimat syahadat ini merupakan dua perkara yang harus diimani oleh semua jin dan manusia. Barangsiapa tidak beriman dengan keduanya atau salah satunya maka ia kafir, Rasulullah bersabda<em> “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentangku seorangpun dari umat ini; baik ia seorang yahudi atau nashrani kemudian ia mati dan tidak beriman dengan perkara yang aku diutus dengannya melainkan ia termasuk penduduk an naar (neraka).”</em> (HR. Muslim no.240)</p>
<p>Makna dari syahadat ini adalah: tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali hanya Allah.</p>
<p>Kalimat ini memiliki dua rukun; nafyi dan itsbat. Nafyi maknanya: meniadakan semua peribadahan kepada selain Allah. Itsbat: menetapkan ibadah hanya untuk Allah semata.</p>
<p>Sebagian kaum muslimin menafsirkan kalimat la ilaha illallah dengan “tidak ada tuhan selain Allah”, ini adalah penafsiran yang keliru karena buktinya banyak sekali sesembahan selain Allah baik itu berbentuk pohon, batu, kuburan, patung, berhala, atau yang lainnya. Maka makna yang benar adalah yang telah kami sebutkan diatas, yaitu tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali hanya Allah. Walaupun disana ada sesembahan-sesembahan selain Allah semuanya tidak berhak untuk diibadahi.</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong><em>[ dan Muhammad adalah Rasulullah ]</em></strong> makna persaksian kedua ini adalah mencintai beliau lebih dari yang lainnya, mentaati semua perintahnya, menjauhi serta meninggalkan semua larangannya, membenarkan semua beritanya; baik yang telah terjadi atau yang akan terjadi, atau yang sedang terjadi walaupun tidak disaksikan oleh indera kita, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali sesuai dengan syari’atnya, serta berkeyakinan bahwa beliau adalah seorang hamba yang tidak boleh dikultuskan dan beliau adalah seorang rasul yang tidak boleh didustakan.</p>
<p>Dua syahadat diatas adalah kunci sukses diterimanya sebuah amalan, yaitu ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Maka semua amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah haruslah dilakukan diatas dasar ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em>, jika sebuah amalan dilakukan tidak disertai keikhlasan walaupun sesuai tuntunan Rasulullah maka amalan tersebut tidak akan diterima, demikian pula sebaliknya. Yang menunjukkan hal ini adalah hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah berkata kepada seorang shahabatnya yang menyembelih hewan kurban tidak sesuai dengan tuntunannya, <em>“Sembelihanmu ini dianggap shadaqah”</em> maksudnya sembelihan tersebut tidak dianggap sebagai sembelihan kurban, karena shahabat tersebut menyembelih hewannya sebelum shalat iedul adha. Padahal tuntunan Rasulullah hewan kurban harus disembelih setelah shalat. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam <em>Fathul Bari </em>(10/17) berkata, “Syaikh Abu Muhammad bin Abu Hamzah berkata, ‘didalamnya terkandung faidah bahwa sebuah amalan walaupun dilakukan dengan niat yang tulus tidak akan menjadi sah sampai dilakukan sesuai dengan tuntunan syari’at.”<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong><em>[ engkau menegakkan shalat ]</em></strong> rukun islam terpenting setelah <em>syahadatain</em> adalah shalat, yang disifati oleh Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam </em>sebagai tiang agama islam sebagaimana dalam wasiatnya kepada Mu’adz bin Jabal (hadits ke 29), dan beliau memberitakan bahwa shalat adalah perkara terakhir yang akan hilang dari dienul islam dan perkara pertama yang akan ditanyakan pada hari kiamat<a href="#_ftn3">[3]</a>, dan bahwa dengan shalat bisa terbedakan antara seorang muslim dan kafir<a href="#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p>Diantara juga yang menunjukkan pentingnya perkara shalat ialah, bahwa Allah mewajibkan shalat lima waktu kepada Rasulullah pada malam isra’ ketika beliau berada di atas langit. Dan bahwa penduduk neraka saqar menjawab tentang sebab masuknya mereka kedalamnya, “<em>Apa yang menyebabkan kalian masuk kedalam neraka saqar? * mereka menjawab: kami dahulu bukan termasuk orang-orang yang menegakkan shalat.”</em> (QS. Al Mudatsir:42-43), dan shalat merupakan wasiat Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> terakhir, dari Anas bin Malik ia berkata, “Dahulu keumuman wasiat Rasulullah ketika akan meninggal adalah ‘tegakkanlah shalat dan juga budak-budak yang kalian miliki.’.”,</p>
<p>Dari Ali bin Abi Thalib  ia berkata, “Dahulu ucapan terakhir nabi adalah ‘tegakkanlah shalat dan juga budak-budak yang kalian miliki.’.”</p>
<p>Demikian pula, ketika Allah menyebutkan sifat orang-orang yang beriman di dalam surat Al Mukminun dan Al Ma’arij dimulai dengan shalat dan di akhiri dengan shalat. Didalam surat Al Mukminun pada ayat 2, Allah berfirman, <em>“yaitu orang-orang didalam shalatnya khuyu’”</em> dan pada ayat 9, “<em>Dan orang-orang yang memelihara shalatnya”</em>, dan didalam surat Al Ma’arij ayat 22 dan 23, <em>“Kecuali orang-orang yang shalat * yaitu orang-orang yang selalu menegakkan shalat”</em> dan pada ayat 34, “<em>Dan orang-orang yang memelihara shalatnya”</em>.</p>
<p>Adapun makna Shalat adalah: <strong>suatu bentuk peribadahan kepada Allah dengan ucapan dan perbuatan yang dilakukan dengan gerakan tertentu, dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.</strong></p>
<p><strong><em>[ membayar zakat ]</em></strong> rukun islam terpenting setelah shalat adalah zakat yang sering disebut didalam Al Qur’an dan hadits beriringan dengan shalat, sebagaimana firman Allah:</p>
<p><strong>{ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ }</strong></p>
<p><em>“jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan”</em> (QS. At Taubah:5)</p>
<p>Zakat adalah suatu kewajiban yang berkaitan dengan harta tertentu yang diberikan kepada golongan tertentu atau untuk tujuan tertentu. Untuk golongan tertentu seperti para fuqara’, dan tujuan tertentu seperti digunakan untuk fi sabilillah.</p>
<p>Diantara kebaikan yang timbul dari membayar zakat adalah membersihkan jiwa orang yang kaya dari sifat bakhil dan kikir serta membersihkan jiwa orang yang fakir dari sifat iri dan dengki terhadap orang yang kaya.</p>
<p><strong><em>[ berpuasa dibulan ramadhan ]</em></strong> shaum ramadhan adalah ibadah <em>badaniyah</em> (ibadah yang dilakukan oleh anggota badan), ia merupakan perbuatan rahasia antara seorang hamba dengan Rabbnya dan tidak ada yang mengetahui hakekat puasa kecuali dia dan Allah. Terkadang sebagian manusia di bulan ramadhan tidak berpuasa namun orang disekelilingnya mengira ia sedang berpuasa, dan terkadang seseorang sedang berpuasa sunnah namun orang disekelilingnya mengira ia sedang tidak berpuasa. Oleh karena itu, dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan bahwa amalan manusia akan dibalas sampai 700 kali lipat, kata Allah, <em>“Kecuali puasa, sesungguhnya ia melakukannya untukku maka aku yang akan membalasnya.”</em> Maksudnya Allah akan membalasnya tanpa batasan. <a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Adapun makna shaum adalah: “menahan diri dari semua perkara yang membatalkannya dalam rangka beribadah kepada Allah dimulai sejak terbit fajar shadiq sampai terbenam matahari.”<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Tentang keutamaannya telah dijelaskan dalam hadits yang sangat banyak, diantaranya adalah hadits yang telah disebutkan diatas, <em>“</em><em>“Kecuali puasa, sesungguhnya ia melakukannya untukku maka aku yang akan membalasnya.”</em> (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p><em>“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sungguh, bau mulut seorang yang berpuasa lebih harum disisi Allah daripada wangi misik. Orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan; kegembiraan ketika ia berbuka dan kegembiraan ketika ia berjumpa dengan Rabbnya dengan (pahala) puasanya.”</em> (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dari Jabir bin Abdillah bahwa Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam </em>bersabda: <em>“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Shaum adalah perisai, yang digunakan oleh seorang hamba untuk melindungi dirinya dari api neraka.”</em> (HR. Ahmad)</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>[ dan berhaji ]</em></strong> berhaji ke <em>baitullah al-haram</em> (ka’bah) merupakan ibadah <em>maliyah badaniyah</em> (ibadah harta dan badan). Tentang keutamaannya telah dijelaskan oleh Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam </em>dalam<em> </em>sabdanya, <em>“Barangsiapa melakukan haji ke rumah ini (ka’bah) dan tidak berkata kotor atau berbuat keji, maka ia kembali (menjadi suci) seperti pertama kali dilahirkan dari perut ibunya.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim), beliau juga bersabda, <em>“Umrah satu ke umrah lainnya adalah penebus dosa yang dilakukan diantara keduanya, sedangkan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.”</em> (HR. Muslim, no.1349)</p>
<p>Adapun makna haji adalah: “pergi menuju Mekkah untuk menunaikan manasik haji pada waktu yang telah ditentukan.” <a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Kewajiban melaksanakan Ibadah haji ditetapkan pada tahun sembilan hijriyah menurut pendapat yang kuat. Pada tahun tersebut Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam </em>tidak menunaikan haji, beliau baru menunaikan haji pada tahun setelahnya. Hal ini disebabkan, pada musim haji tahun kesembilan tersebut beliau memerintahkan Ali untuk mengumumkan kepada manusia di Makkah, <em>“Agar tidak ada lagi setelah tahun ini seorang musyrik yang melaksanakan haji, tidak pula seorang yang telanjang melakukan thawaf di ka’bah.”</em> (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah). Maka ketika orang musyrik atau orang yang telanjang telah dilarang menunaikan haji, baru pada tahun kesepuluh hijriyah Nabi menunaikannya sekaligus sebagai haji perpisahan, karena beberapa bulan setelah itu beliau meninggal dunia. <a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Disebabkan ibadah haji dilaksanakan oleh seluruh kaum muslimin dari penjuru dunia, maka membutuhkan kepada bekal dan kekuatan yang cukup. Sehingga tidak jarang menimbulkan kesulitan, keletihan, dan sesuatu yang membahayakan. Maka diantara rahmat Allah kepada hamba-Nya adalah tidak mewajibkan ibadah haji kecuali hanya sekali seumur hidup, selebihnya adalah sunnah. Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kalian ibadah haji maka berhajilah</em>.’ Ketika itu ada seorang shahabat bernama Aqra’ bin Habis bertanya, ‘apakah (kewajibannya) setiap tahun, wahai Rasulullah?’ Nabi terdiam (tidak menjawabnya), kemudian ia mengulangi pertanyaannya, Nabi masih terdiam, kemudian ia mengulangi untuk yang ketiga kalinya, baru Nabi menjawab, <em>‘seandainya aku jawab benar pasti akan menjadi wajib (setiap tahun) dan pasti kalian tidak akan mampu (melakukannya). (Kewajiban) haji hanya sekali, adapun selebihnya adalah sunnah.”</em> (HR. Abu Daud dan Nasa’i, dari Ibnu ‘Abbas, di shahihkan Syaikh Al Albani) <a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p><strong><em>[ jika engkau mampu melakukan perjalanan kesana ]</em></strong> ini merupakan syarat diwajibkannya ibadah haji kepada seorang hamba, yaitu memiliki kemampuan <em>badaniyah</em> dan <em>maliyah</em>. Kemampuan <em>badaniyah</em> seperti memiliki kemampuan untuk berjalan, berkendaraan, atau berpindah dari tempat tinggalnya menuju Makkah. Adapun kemampuan <em>maliyah</em> seperti memiliki kemampuan untuk menyiapkan kendaraan dan perbekalan selama melaksanakan haji sampai ia kembali lagi ke kampungnya, juga menyiapkan perbekalan untuk anak, istri, kedua orang tua, dan semua yang berada dibawah tanggung jawabnya sampai ia selesai dari hajinya. Barangsiapa yang tidak memiliki kemampuan, baik berupa bekal atau kendaraan maka tidak ada kewajiban haji baginya.</p>
<p>Syarat berikutnya adalah: <em>al-amnu fit thoriq </em>(keamanan di perjalanan).</p>
<p>Sedangkan batasan mampu untuk wanita yang tinggal di luar Makkah ditambah dengan satu syarat lagi yaitu disertai mahramnya, karena Rasulullah bersabda:</p>
<p><strong>(( لا يخلوَنَّ رجلٌ بامرأة إلاَّ ومعها ذو محرم، ولا تسافر المرأة إلاَّ مع ذي محرم، فقام رجل فقال: يا رسول الله! إنَّ امرأتي خرجت حاجَّة، وإنِّي اكتُتبت في غزوة كذا وكذا، قال: انطلق فحُجَّ مع امرأتك ))</strong></p>
<p><em>“Janganlah sekali-kali seorang lelaki berduaan dengan seorang wanita kecuali bersamanya ada mahramnya, dan jangan pula seorang wanita melakukan safar kecuali bersama mahramnya.</em>’ Ketika itu ada seorang shahabat yang berdiri dan berkata, ‘wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku akan pergi berhaji sedangkan aku turut dalam peperangan ini dan itu’. Kata beliau, <em>‘pergi dan berhajilah bersama istrimu.’.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim, dari Ibnu ‘Abbas)</p>
<p>Diperbolehkan meng-haji-kan orang yang telah meninggal, adapun orang yang masih hidup tidak boleh di-haji-kan kecuali pada dua keadaan:</p>
<ol>
<li>Orang      tersebut sudah lanjut usia sehingga tidak mampu lagi untuk melakukan      safar.</li>
<li>Orang      tersebut sedang ditimpa sakit yang tidak diketauhi kesembuhannya. <a href="#_ftn10">[10]</a></li>
</ol>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat <em>Hasyiyah Tsalatsatul ushul</em>, Ibnul Qasim dan <em>Hushulul Makmul</em> hal.147, Abdullah bin Shalih Al Fauzan</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Dinukil dari <em>Syarah Hadits Jibril fii Ta’limid Diin</em> hal.15</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat <em>Ash-Shahihah</em> no.1739, 1358, 1748.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> HR. Muslim, no.134</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Dinukil dari <em>Syarah Hadits Jibril fii Ta’limid Diin</em> hal.15</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Dinukil dari <em>Hushulul Makmul syarah Tsalatsatul Ushul</em> .</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Dinukil dari <em>Hushulul Makmul syarah Tsalatsatul Ushul</em> .</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Lihat <em>Syarhu Tsalatsatil Ushul</em>, Syaikh Shalih Al Fauzan</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Lihat <em>Syarhu Tsalatsatil Ushul</em>, Syaikh Shalih Al Fauzan</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Lihat Syarhu Hadits Jibril fii Ta’limid Diin</p>
</div>
</div>
<p><!--more--></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kehidupanhati.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kehidupanhati.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kehidupanhati.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kehidupanhati.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kehidupanhati.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kehidupanhati.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kehidupanhati.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kehidupanhati.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kehidupanhati.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kehidupanhati.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kehidupanhati.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kehidupanhati.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kehidupanhati.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kehidupanhati.wordpress.com/81/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kehidupanhati.wordpress.com&amp;blog=20665019&amp;post=81&amp;subd=kehidupanhati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kehidupanhati.wordpress.com/2011/04/07/kandungan-hadist-jibril-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b29cd661784c5ed1a3fc85d842b0b2e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kehidupanhati</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
