kandungan hadist jibril (part 1)


l             Penjelasan Hadits

[ Suatu hari, ketika kami sedang duduk-duduk disekitar rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam ] dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dengan lafazh, “Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tampak bersama para shahabat.”

Adapun dalam riwayat Abu Daud dari Abu Dzar dan Abu Hurairah dengan lafazh, “Dahulu Rasulullah duduk di tengah-tengah para shahabat. Lalu, datanglah seorang asing yang tidak ada seorangpun (dari kami) mengenalinya. Maka kami menawarkan kepada beliau untuk dibuatkan sebuah tempat duduk khusus agar beliau bisa mengetahui jika ada orang asing yang mendatanginya. Maka kami membangunkan untuk beliau tempat yang agak tinggi dari tanah sehingga beliau duduk diatasnya, sedangkan kami duduk disekeliling beliau.” Riwayat terakhir ini menunjukkan bahwa sepantasnya bagi seorang pengajar berada di tempat yang lebih tinggi agar mudah dikenali dan dilihat oleh para hadirin, terlebih apabila yang hadir banyak. Sehingga memudahkan bagi mereka semua untuk bersitifadah.

Dari semua riwayat diatas menunjukkan bahwa kebiasaan para shahabat dahulu adalah berkumpul disisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di masjid untuk menimba ilmu. Ketika mereka sedang pada kebiasaannya itu:

[ tiba-tiba muncul seseorang yang putih bersih bajunya ] konteks hadits ini menunjukkan pujian bagi siapa saja yang memiliki sifat ini. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sangat senang dengan pakaian warna putih, dan warna itulah yang sering beliau kenakan, beliau juga memerintahkan agar mengkafani orang yang meningal dengan kain putih[1].

Para ulama berkata: dari sini diambil faidah yaitu disunnahkan bagi seseorang untuk merapikan penampilannya ketika ingin menemui  para ulama, fudhala (para tokoh/pembesar) dan pemimpin.[2]

[ hitam legam rambutnya ] dalam riwayat Ibnu Hibban (1/390) dengan lafazh, “hitam legam jenggotnya” ini adalah perkara jibliyah (tabi’at) sehingga tidak boleh bagi seorang yang rambut kepala atau jenggotnya berwarna merah, putih, atau coklat untuk merubahnya dengan warna hitam. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Jauhilah warna hitam.”[3]

Continue reading

Hadits Jibril ‘alaihis salam


Hadits Jibril ‘alaihis salam

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ الله تَعَالَى عَنْهُ أَيْضًا قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدٌ بَيَاضُ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحْدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً . قَالَ صَدَقْتَ ، فَعِجَبْنَا لَهُ ، يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ
قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ ؟ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ . قَالَ صَدَقْتَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ ؟ قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ ، قَالَ : مَا الْمَسْئُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ ، قَالَ فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا ، قَالَ : أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا ، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ . ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرُ ، أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ الله وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ ، قَالَ : فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ )). رواه مسلم

Juga dari Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Suatu hari, ketika kami sedang duduk-duduk di sekitar rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, tiba-tiba muncul seorang yang putih bersih bajunya, hitam legam rambutnya, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan, dan tidak ada di antara kami ketika itu yang mengenalnya, sampai ia duduk di hadapan nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. iapun merapatkan kedua lututnya ke kedua lutut nabi dan meletakkan kedua telapak tangannya di kedua paha nabi seraya ia mengatakan, ‘wahai Muhammad, beritakan kepadaku tentang islam?’
Beliau menjawab, ‘Islam adalah, engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah yang hak kecuali hanya Allah dan Muhammad adalah rasulullah, engkau menegakkan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan ramadhan, dan berhaji jika engkau mampu melakukan perjalanan kesana.’ Orang itu menjawab, ‘engkau benar.’
Umar berkata, ‘Kami heran dengan orang ini, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan.’
Ia bertanya lagi, ‘beritakan kepadaku tentang iman?’ beliau menjawab, ‘kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.’ Katanya lagi, ‘engkau benar.’
Ia bertanya lagi, ‘beritakan kepadaku tentang ihsan?’ beliau menjawab, ‘kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, jika kamu tidak mampu melihat-Nya pasti Dia yang melihatmu.’
Ia bertanya lagi, ‘beritakan kepadaku tentang as-sa’ah (hari kiamat)’ beliau menjawab. ‘tidaklah yang ditanya lebih tahu dari yang bertanya.’ Katanya, ‘(kalau begitu) jelaskanlah kepadaku tanda-tandanya’ beliau menjawab, ‘yaitu budak wanita yang melahirkan majikannya, dan kamu menyaksikan orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berbusana, lagi fakir yang menggembala domba saling berlomba meninggikan bangunan.’
Kemudian orang itu pergi, setelah berlalu beberapa waktu, beliau berkata, ‘wahai Umar, tahukah kamu siapa yang bertanya?.’.
‘hanya Allah dan rasul-Nya yang tahu.’ jawabku.
Kata beliau, ‘sesungguhnya ia adalah Jibril, datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan dien kalian.’ (HR. Muslim)

#############
 Biografi Periwayat Hadits

Continue reading

BOLEHKAH MENJAMAK SHALAT KARENA MACET ?


Oleh Asy-Syaikh Abdullah Al Bukhari

Pertanyaan ; Kami tinggal di kota besar yang (lalu lintasnya) senantiasa padat, terkadang seseorang terjebak dalam kemacetan selama berjam-jam sampai keluar waktu shalat, maka apa yang harus ia lakukan? Dan jika ia memperkirakan bahwa kemacetan tersebut akan panjang, bolehkah baginya menjama’ dua shalat dengan jama’ taqdim?

Jawab; Pada asalnya semua shalat itu dikerjakan pada waktunya, Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا” (النساء – 103)”

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (Qs. An-Nisa’; 103)

maka yang wajib shalat-shalat tersebut dilakukan pada waktunya seperti yang disyariatkan.

Disini penanya mengatakan bahwa ia tinggal di kota besar yang selalu macet yang seseorang terkadang berada dalam kemacetan berjam-jam lamanya hingga keluar waktu shalat. Ia tidak boleh untuk tetap didalam mobil, sepertinya yang dimaksud si penanya apabila ia tetap didalam mobil, yaitu (hukumnya) tidak boleh baginya untuk tetap di dalam mobil sampai keluar waktu shalat, shalat-shalat tersebut harus dilakukan pada waktunya sebagaimana ayat yang telah kami sebutkan tadi.

Continue reading

dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah


Nasihat dan peringatan bagi wanita muslimah

( كل نفس ذائقة الموت و إنما توفون أجوركم يوم القيامة فمن زحزح عن النار وأُدخل الجنة فقد فاز وما الحياة الدنيا إلاَّ متاع الغرور)
Allah berfirman, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185)
Sebagaimana engkau telah mendengar, engkau akan keluar dari dunia di waktu kapanpun dari siang atau malam, dan kenikmatan dunia itu hanyalah pendek, dan balasan yang hakiki adalah di akhirat.

Maka tidak sepantasnya engkau menelantarkan dirimu dengan melakukan perbuatan maksiat dan meninggalkan kewajiban-kewajiban sedangkan kamu mengetahui bahwa dirimu akan keluar dari (kehidupan) dunia ini menuju akhirat (yang kekal abadi).

Continue reading

catatan indah


nasehat utk diriku…

Ilmu itu adl tempat2 yg butuh utk didatangi, dan perlu dikorbankan sesuatu yg berharga utk mencapainya, betapa banyak kesulitan dan kepayahan yg dialami oleh penuntut ilmu dan betapa banyak kesulitan yg menghadang.

Imam hakim m’gambarkan tentang org yg berjalan menuntut ilmu :
Continue reading

Khutbah Jum’at Syaikh Abdullah Al Bukhari di Yogyakarta


KHUTBAH JUM’AT
2 Sya’ban 1430 H

Bersama Fadhilatul ‘Allamah Asy-Syaikh ‘Abdullah Al-Bukhari hafizhahullah

Di Masjid Ma’had Al-Anshar, Sleman – Yogyakarta
(di tengah-tengah acara Dauroh Ilmiah Asatidzah ke-5 Yogyakarta)

Khutbah I

إن الحمد لله، نحمده تعالى ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن نبينا محمدا نبيه ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (102) [آل عمران/102]

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (1) [النساء/1]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (71) [الأحزاب/70، 71]

فإن أصدق الحديث كتاب الله تعالى، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وآله وسلم، وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار، وبعد :

Bertaqwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah …

Dan senantiasalah kalian senantiasa merasa diawasi oleh-Nya, baik dalam kondisi sendiri ataupun di hadapan khalayak, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Karena sesungguhnya barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah akan menjaganya. Semakin seorang meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah niscaya bertambah hidayah terhadapnya. Seorang hamba akan senantiasa ditambah hidayahnya selama dia senantiasa menambah ketaqwaannya. Semakin dia bertaqwah, maka semakin bertambahlah hidayahnya, sebaliknya semakin ia mendapat hidayah/petunjuk, dia semakin menambah ketaqwaannya. Sehingga dia senantiasa ditambah hidayahnya selama ia menambah ketaqwaannya.

Continue reading

Ar Risalah Ilaik yaa Bunayya


Ya Bunayya..

Sesungguhnya dunia ini hanya sesaat, maka carilah bekal utk mengarungi kehidupanmu stlh ini. Dan sebaik-baik bekal adl taqwa.

Thalq ibn Habib tlh m’definisikan apa itu makna taqwa, ‘Engkau beramal ketaatan kpd Allah di atas cahaya ilm dri Allah & engkau mgharap pahala dri Allah. Dan engkau meninggalkan maksiat di atas cahaya dr Allah krna takut akan siksa Allah’.

Ya bunayya..

Bersemangatlah engkau utk menuntut ilmu syar’i.

Karena wahai anakku, menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.

Ya bunayya..

Bersabarlah…..

Bersabar di dlm menuntut ilmu.. Krna sesungguhnya Ahmad ibn Hambal rahimahullah mgtkn ilmu itu lebih engkau butuhkan drpd makan dan minum.

Ishbir ya bunayya…

Bersabarlah thdp pedihnya kesakitan dlm menuntut ilmu,

Capekmu wahai anakku, bisa mjd ibadah jk engkau ikhlas.

Ya bunayya..yahya ibn katsir rahimahullah mgtkn bhwasanya ilmu itu tdk akan didapat dgn badan yg bnyk istirahat.

Ya bunayya…

Amalkanlah ilmumu wahai jantung hatiku…Tidak disbut Seorg yg berilmu hingga dia mengamalkan ilmunya itu.

Stlh itu sabar….sabarlah utk tetap di atas ketaatan…istimror dlm melakukan amalan..meski itu amalan yg kecil.

Ya bunayya…cukup ini dulu nasehat ini ku haturkan.

Salam terindah untukmu wahai jantung hatiku. <3

Zainab Syafi'i

tentang salam


syaikh ‘utsaimin Rahimahullah telah menjelaskan panjang lebar plus detail dlm masalah salam dlm kitabnya fathu dzil jalaali wal ikram, pda kitabul jami’ bab adaab hadist pertama.

MasyaAllah…
Bentuk salam terbagi mjdi 4 :: Salaamun ‘alaika, …As-salaamu ‘alaika, salaamun ‘alaikum, As-salaamu ‘alaikum.
Ditanyakan :: mana yg lebih afdhal, menjama’-kan atau menunggalkan, dan menakirohkan atau mema’rifatkan.
Al jawab :: di dalam ini terdapat perselisihan di antara ulama.
Yang Nampak jelas :: Afdhal utk mema’rifatkan dengan menunggalkan, yaitu perkataanmu :: As-Salaamu ‘alaika. Dan boleh kamu katakan, As-Salaamu ‘alaikum itu sbgai btk Ta‘zhim/pengagungan dan digunakan utk isyaroh thdp apa yg bersamanya dari kalangan malaikat (qarin-red).
Dan boleh memucapkan salaamun ‘alaikum atau salaamun ‘alaika.

>>maroji’ : kitab fathu dzil jalaali wal ikram, kitaabul jami’, bab adaab, hal 240.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawaab. Wa al-‘ilmu ‘indallah.

faidah indah…


Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa nikmat itu ada 3 macam.
Pertama, adalah nikmat yang nampak di mata hamba.

Kedua, adalah nikmat yang diharapkan kehadirannya.

Ketiga, adalah nikmat yang tidak dirasakan.

Itulah nikmat yang sering kita lupakan. Kita mungkin hanya tahu berbagai nikmat yang ada di hadapan kita, semisal rumah yang mewah, motor yang bagus, dsb. Begitu juga kita senantiasa mengharapkan nikmat lainnya semacam berharap agar tetap istiqomah dalam agama ini, bahagia di masa mendatang, hidup berkecukupan nantinya, dsb. Namun, ada pula nikmat yang mungkin tidak kita rasakan, padahal itu juga nikmat.

Ibnul Qoyyim menceritakan bahwa ada seorang Arab menemui Amirul Mukminin Ar Rosyid. Orang itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin. Semoga Allah senantiasa memberikanmu nikmat dan mengokohkanmu untuk mensyukurinya. Semoga Allah juga memberikan nikmat yang engkau harap-harap dengan engkau berprasangka baik pada-Nya dan kontinu dalam melakukan ketaatan pada-Nya. Semoga Allah juga menampakkan nikmat yang ada padamu namun tidak engkau rasakan, semoga juga engkau mensyukurinya.” Ar Rosyid terkagum-kagum dengan ucapan orang ini. Lantas beliau berkata, “Sungguh bagus pembagian nikmat menurutmu tadi.”

Semoga kita termasuk orang yang mensyukuri tiga macam nikmat ini.

Faedah dari Ibnul Qoyyim dari kitab beliau Al Fawa’id, hal. 165-166, Darul ‘Aqidah.

Seuntai Kata, Seribu Makna


Seuntai Kata, Seribu Makna

Bismillahirrahmanirrahim…

Innal hamda lillah nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruhu wa na’udzubillahi min syuruuri anfusina wa min sayyiaati a’malina, man yahdihillahu fa laa mudhilla lahu, wa man yudhlil fa laa haadiya lahu.

Wash-shalatu was salam ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala Alihi wa ash-habi wa man tabi’ahum bi ihsani ila yaumid-Diin. Amma ba’du :

Telah termaktub dalam Kalam-Nya yang Mulia,

Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-baner dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS Al Ashr : 1-3)

Wahai jiwa yang hanif…hisablah dirimu sebelum dirimu dihisab…

Berkata Maimun bin Mihran berkata, “sesungguhnya orang yang bertaqwa dia lebih keras menghisab dirinya dibandingkan penguasa yang jahat dan daripada sekutu syarikah yang benar-benar bakhil”.

Bahwasanya penguasa yang jahat itu meneliti setiap pembesarnya, penggawanya dan juga rakyat-rakyatnya, dan dua orang yang bersekutu itusangat ketat dalam memeriksa semua pengeluaran dll. Sehingga seorang yg bertaqwa hendaknya khawatir nafsu ini akan melarikan modal dan harta yang paling berharga dari dirinya.

Disebutkan oleh Imam Ahmad, Wahab bin Munabbih dia berkata tertulis di dalam hikmah keluarga nabi daud, merpakan perkara yang mesti dan wajib, tidak boleh ia lalai dari 4 waktu :

* Suatu saat di mana dia bermunajat/berbisik/berbincang dengan Raabnya
* Suatu saat di mana dia menghisab dari dirinya.
* Suatu saat yang dia dan saudara-saudaranya di dalamnya, yang mereka mengabarkan aib-aibnya dan mereka itu jujur terhadap dirinya.
* Suatu saat yang di mana dia sendirian, pada waktu itu ada antara dia dengan kelezatan nafsunya, dalam perkara-perkara yang halal dan membuatnya menjadi bagus Dan di dlm waktu ini ada pendukung untuk memperoleh waktu-waktu yang tiga tadi, itu membuat membesarkan/menenangkan kepada hati.

Dalam hal ini, meskipun ini adalah kisah israiliyyat, akan tetapi Hikmah adalah barang bercecer seorang mukmin, maka siapa yang menemukannya dialah yang berhak . Dan juga muslim dengan muslim lainnya itu seperti cermin, sehingga jika ia sedang bercermin dan tampak kekotoran, maka cermin itu akan memberitahukannya.

Al Akhnaf bin Qais mendatangi suatu lampu(yang tengahnya adaapinya) lalu ia letakkan jarinya di atasnya, lalu dia berkata, “ ya khunaif (utk menunjukkan kecilnya), apa yang mendorongmu untuk berbuat demikan di hari tersebut? apa yang mendorongmu untuk berbuat demikan di hari tersebut?”.

Demikianlah digunakan oleh ulama untuk menghisab/memperingatkan/mengancam dirinya…..“kenapa kamu bermaksiat? Sedangkan api neraka itu lebih panas 70 kali ”… juga sebuah cerita, seorang wanita yang shalihah akan berpesan kepada suaminya ketika hendak keluar, “jangan engkau bawa barang-barang yang haram, kami bisa bertahan beberapa hari, namun kami tidak mampu zaqqum(kelaparan di hari kiamat)”

Sesungguhnya semua akan berbicara kepada Allah, sedangkan kita kita tidak bisa memprotes atau membantahnya….tangan, kaki, kulit…hingga mungkin akan ada ucapan, “Kenapa kalian menjadi saksi yang memberatkanku”. Wa ‘iyadzubillah. Hendaknya, ada penyesalan, pencelaan terhadap diri kita, sebelum hati kita menjadi gelap dan menjadi seperti mangkuk yang terbalik sehingga tidak bisa menerima sesuatu apapun.

‘Umar bin Al Khathab menulis kepada sebagian pegawainya, “hisablah dirimu di dalam keadaan yang tenang sebelum (datangnya) hisab yang berat, maka sesungguhnyabarangsiapa yang menghisap dirinya dalam keadaan yang tenang maka urusannya akan kembali kepada keridhoan dan kesenangan, dan sedangkan orang yang dilalaikan oleh kehidupannya dan disibukkan oleh hawa nafsunya, niscaya urusannya akan kembali kepada penyesalan dan kerugian”.

Al Hasan Al Bashri Rahimahullah berkata, “seorang mukmin adalah pemimpin(Qawwam) atas dirinya, dia menghisab dirinya karena Allah, dan bahwasanya Ringannya hisab di hari kaiamat adalah atas orang-orang yang menghisab dirinya di dunia, dan bahwasanya yang berat hisabnya adalah orang-orang yang mengambil perkara ini tanpa hisab. Sunguh, pada seorang mukmin itu ada apabila dikejutkan oleh sesuatu yang dia kagum terhadapnya, maka dia berkata ‘Demi Allah, sesungguhnya aku sangat suka kepadamu, dan sungguh engkau termasuk kebutuhanku, Akan tetapi, Demi Allah, tidak ada jalan menuju kepadamu, sungguh jauh, sunguh jauh..terhalang antara aku dan engkau.

Dan jika dia melakukan sesuatu yang melampaui batas, dia kembali kepada jiwanya..sembari berucap, “Apa yang aku maukan dengan ini? Ada apa denganku dan dengan ini?”, Wallahi, aku tidak akan kembali kepada ini (mengulanginya) selama-lamanya.

Dan, sesungguhnya kehidupan adalah sesaat…..bukankah setelah kehidupan ini ada kehidupan yang setelahnya, semoga petikan untaian kata ini bermanfaat. Baarakallahu fiikum.

———————————————-

Ighaatsatul Lahafan, hal 73, cet. Daarul ‘aqidah

Bersama Al Ustadz Idral Harist Hafizhahullah